Merajut Cinta di Tanah Kalimantan


Merajut Cinta di Tanah Kalimantan  

“Seribu sungai” itulah salah satu julukan yang digunakan untuk menggambarkan pulau Kalimantan. Selain dikenal sebagai pulau dengan seribu sungai, wilayah ini juga tidak asing diluar pulau karena, pada tahun 1999 sempat heboh terjadi konflik kerusuhan.  
Satu hal yang mungkin terlintas dalam pikiran masyarakat, ketika mendengar “Kalimantan” adalah mengenai konflik kerusuhan tersebut. Yaa, Konflik yang terjadi antar etnis, tepatnya antara suku Dayak, Melayu dan Madura. Miris, ketika beberapa masyarakat masih trauma dan selalu teringat dengan konflik yang telah merenggut ratusan nyawa dari penduduk Kalimantan, tepatnya Kalimantan Barat.
Namun, dibalik konflik yang terjadi pada saat itu, ada satu istilah yang tak pernah lepas dari diri kita, yaitu Bhineka Tunggal Ika "meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu jua". Tak perduli seberapa kerasnya konflik yang terjadi, istilah ini nampaknya akan selalu menjadi pengingat kita bahwa, perbedaan bukanlah alasan untuk terjadinya perpecahan.
Kalimantan, merupakan satu dari banyaknya pulau di Indonesia yang rawan dengan perpecahan. Rawannya perpecahan ini dikarenakan sukunya yang sangat beragam. Mulai dari Suku Melayu, Dayak, Tionghoa, Batak, Bugis, Bajau, Jawa, Madura, dan masih banyak lagi.
Maka, potensi untuk terjadinya konflik akan selalu ada, sekecil apapun itu. Kenapa ? Karena sejatinya setiap suku memiliki bahasa yang berbeda-beda, budaya yang berbeda, keyakinan yang berbeda, dan tradisi yang berbeda-beda. Maka tantangannya adalah “mampukah kita bertahan dibalik perbedaan itu ?”.  
Berdasarkan fakta yang ada, 19 tahun semenjak terjadinya kerusuhan hingga saat ini, tidak pernah terjadi konflik layaknya kerusuhan 1999.  Oleh sebab itu, kita dapat mengatakan bahwa, hingga saat ini kita mampu untuk menjaga keberagaman suku yang ada. Kita juga patut berbangga, karena dibalik keberagaman suku ini, kita bisa menjalin kebersamaan.
Salah satu yang harus kita perhatikan diantara keberagaman suku adalah bahasa. Beragam sukunya, maka beragam pula bahasanya. Bahasa menjadi salah satu penentu dibalik berhasil atau tidaknya sebuah komunikasi antar suku yang berbeda. Kita harus memahami, maksud dan keinginan masing-masing suatu kelompok. Bukan hanya memahami apa yang mereka sampaikan melalui bahasa lisan, tetapi juga memahami body language dan gesture tubuh mereka. Sehingga, meskipun kita tidak mengerti secara bahasa lisan, setidaknya kita memahami isyarat yang mereka berikan.
Jika kita tidak memahami suku lain dengan bahasa yang mereka miliki masing-masing, maka bukan tidak mungkin konflik antar suku akan terulang kembali. Kita harus adil melihat kelompok lain, tanpa melakukan generalisasi. Disinilah tugas kita, untuk menjalin kebersamaan, menjaga, dan menghormati keberagaman suku yang ada di Kalimantan. Tidak ada yang berbeda, karena sejatinya kita tetap sama bukan ? Sama-sama ciptaan Tuhan, sama-sama hidup dan lahir ditanah Kalimantan.
Keberagaman suku membuat Kalimantan menjadi lebih kaya dengan nilai-nilai kebudayaan.  Meskipun setiap suku itu berbeda, tetapi perbedaan itulah yang pada akhirnya dapat menyatukan mereka. Rasa cinta yang besar terhadap sesama, hingga menumbuhkan sikap toleransi, yang juga disertai sikap solidaritas yang tinggi.
Maka, yang harus kita lakukan saat ini adalah terus mencintai semua suku yang ada di Kalimantan, tanpa terkecuali. Jika kita bisa bahagia dengan hidup perdampingan, lantas “kenapa kita harus saling menyalahkan?”. Mari, kita bangun harmoni persaudaraan, dan bersatu dalam keberagaman. Tetap ciptakan sebuah kebahagiaan meskipun banyak perbedaan. Jika, mencintai Kalimantan adalah harga mati. Maka tak ada kata berpaling dari tanah ini, tanah Kalimantan!


Ditulis oleh Ema Yanti
Mahasiswi Ilmu Komunikasi, Universitas Tanjungpura

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Listening Text

perkuliahan dibulan puasa

Tradisi Fenomenologi