Tradisi Fenomenologi
Tradisi Fenomenologi
Seorang Profesor komunikasi Universitas
Colorado, Robert Craig, telah membagi tujuh bidang tradisi dalam teori
komunikasi yang disebut sebagai 7 tradisi dalam Griffin (2000:22-35), salah
satunya yang akan kita bahas kali ini adalah Tradisi Fenomenologi. Tradisi ini
bersifat aktual, yang bisa digunakan oleh para mahasiswa komunikasi khususnya,
untuk mempelajari pelatihan dan masalah komunikasi. Dengan adanya tradisi
fenomenologi ini diharapkan kita akan lebih mengerti apa sebenarnya yang
dimaksud dengan tradisi fenomenologi ini.
Apa yang dimaksud dengan tradisi Fenomenologi
?
Dikutip dari buku Griffin (2006) dan
Littlejohn & Foss (2008) Oleh : Prof. Sasa Djuarsa Sendjaja, Ph.D Departemen
Ilmu Komunikasi FISIP-UI, menjelaskan bahwa “ Tradisi Fenomenologi ini
memandang komunikasi sebagai dialog pengalaman diri dan orang-orang lain” Tradisi
fenomenologi merupakan tradisi yang berfokus pada pengalaman pribadi, dimana
hal ini termasuk kepada bagian individu-individu yang ada saling memberikan
pengalaman satu sama lainnya. orang-orang secara aktif menginterpretasi
pengalaman-pengalamannya dan mencoba memahami dunia dengan pengalaman
pribadinya.
Tradisi ini memperhatikan pada pengalaman
sadar seseorang. Maurice Merleau Ponty, pakar dalam tradisi ini menuliskan
bahwa “semua pengetahuan akan dunia, bahkan pengetahuan ilmiah saya, diperoleh
dari beberapa pengalaman akan dunia.” Dengan demikian, fenomenologi membuat
pengalaman nyata sebagai data pokok sebuah realitas. Semua yang dapat kita
ketahui adalah apa yang kita alami. Fenomenologi ini pada kenyataannya
membiarkan segala sesuatunya menjadi jelas sebagaimana adanya.
Tradisi fenomenologi mengamati kehidupan
dalam keseharian dengan suasana yang alamiah. Tradisi fenomenologi dapat
menjelaskan tentang masyarakat dalam berinteraksi dengan media. Demikian pula
bagaimana proses yang berlangsung dalam diri masyarakat. Proses interpretasi menjadi hal yang sangat penting bagi kebanyakan aktor fenomenologis. jadi, Interpretasi adalah proses
menentukan makna dengan pengalaman. Interpretasi disini, merupakan proses aktif
pikiran dan tindakan kreatif dalam mengklarifikasi pengalaman pribadi. Dalam
fenomenologi, interpretasi biasanya membentuk apa yang nyata bagi seseorang. Kita
tidak dapat memisahkan realitas yang ada dari interpretasi yang dialami.
Berikut
ini kita akan membahas apa saja varian dari tradisi Fenomonologi :
Fenomonelogi Klasik,
dipelopori oleh Edmund Husserl penemu Fenomenologi Modern. Baginya, kebenaran
dapat diyakinkan melalui pengalaman langsung dengan catatan kita harus disiplin
dalam mengalami segala sesuatu. Kita harus membuang kebiasaan-kebiasaan kita,
dan bersifat netral tidak berpihak dengan salah satu. Kita harus menyingkirkan
kategori-kategori pemikiran dan kebiasaan-kebiasaan dalam melihat segala
sesuatu agar dapat mengalami sesuatu dengan sebenar-benarnya. Dalam hal ini,
benda-benda di dunia menghadirkan dirinya pada kesadaran kita. Pendekatan
Husserl dalam fenomenologi sangat objektif dunia dapat dialami tanpa harus
membawa kategori pribadi seseorang agar terpusat pada proses. Dengan kata lain harus
adanya kesadaran akan pengalaman dari setiap individu.
Fenomenologi Persepsi, Bertentangan dengan Husserl, para ahli fenomenologi saat ini percaya
bahwa pengalaman itu subjektif bukan
objektif dan subjektivitas merupakan bentuk penting sebuah pengetahuan. Maurice
Merleau Ponty merupakan tokoh penting dalam tradisi kedua ini. Menurut Ponty,
Sebagai manusia, kita dipengaruhi oleh dunia luar atau lingkungan kita dan
sebaliknya, kita juga memenuhi dunia di sekeliling kita, melalui bagaimana kita
mengalami dunia. Dengan demikian, suatu objek atau peristiwa itu ada dalam
suatu proses yang timbal balik (give and take), yaitu hubungan dialogis di mana
suatu objek atau peristiwa atau kejadian akan memengaruhi objek atau peristiwa
lainnya.
Sesuatu yang nyata harus dapat disentuh oleh
pengalaman manusia, meski tidak harus pengalaman empiris [1] (jumhur). Pada akhirnya
kita memberikan makna pada benda-benda di dunia, sehingga pengalaman
fenomenologi apapun tentunya subjektif. Jadi, terdapat dialog antara manusia
sebagai penafsir dan benda yang kita tafsirkan.
Fenomenologi Hermeneutik, selalu dihubungkan dengan Martin Heidegger dengan landasan filosofis
yang juga biasa disebut dengan Hermeneutic of dasein yang berarti suatu
“interpretasi untuk menjadi”. tradisinya lebih luas dalam bentuk penerapan yang
lebih lengkap pada komunikasi. .” Dalam tradisi ini pengalaman alami tidak
terelakan lagi, pengalaman ini terjadi dengan hanya tinggal di dunia. Realitas atau
fakta sesuatu itu tidak dapat kita diketahui hanya dengan analisis, melainkan
oleh pengalaman alamiah yang kita alami dan kita rasakan serta kita ciptakan
melalui penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Sesuatu yang nyata
adalah apa yang dialami melalui penggunaan bahasa.
Referensi :
Dari buku Griffin (2006) dan
Littlejohn & Foss (2008) Oleh : Prof. Sasa Djuarsa Sendjaja, Ph.D Departemen
Ilmu Komunikasi FISIP-UI
Komentar
Posting Komentar