foto essay 4
Semangat Juang di Usia Senja
Foto ini diambil pada tanggal 23 Mei 2017 tepatnya
di terminal kapuas Indah. Foto ini diambil ketika saya dan teman-teman saya
membuat sebuah video untuk memenuhi salah satu mata kuliah kami yaitu “Psikologi
Komunikasi” mengenai filandtropi, yang juga melibatkan Pak Saad. sebagai
aktor di video tersebut. Kelihatannya pada background foto memang terlihat sepi,
tetapi pada kenyataannya suasana disana cukup ramai dan banyak orang yang
berlalu-lalang diterminal tersebut. Foto ini termasuk salah satu foto yang
secara tidak sengaja diambil karena sebenarnya Pak Saad sedang sibuk bekerja
pada saat itu.
Mengutip istilah dari seorang tokoh besar yaitu Bill Gates, menyatakan bahwa “Jika anda terlahir dalam
kemiskinan itu bukanlah kesalahan anda,tapi jika anda mati dalam kemiskinan itu
adalah kesalahan anda.” Setiap orang
tentu ingin dilahirkan dalam keadaan kaya dan sejahtera. Namun takdir telah
berkata lain, beberapa orang ada yang kurang beruntung karena terlahir di
keluarga yang kurang mampu. Namun hal ini tak lantas membuat kita mengeluh atas
apa yang telah Allah berikan kepada kita. Hal ini lah yang terjadi pada seorang
bapak tua yang tinggal di Sudut kota Pontianak. Pak Saad, demikianlah ia
dipanggil. Kurang lebih sudah 20 tahun
pak saad bekerja sebagai seorang kuli. Dengan pekerjaan inilah ia dapat makan
dan mencukupi kebutuhannya sehari-hari.
Pak Saad bekerja di daerah kapuas indah, Pontianak. Hari demi hari dilaluinya dengan
penuh keyakinan.
Kini di 75 tahun usianya, ia masih tetap memacu semangatnya untuk terus bekerja. Tangan-tangan tua pak Saad masih
sangat terampil mengangkat barang. Oleh karena itu, bapak yang sudah lanjut
usia ini pun harus menghabiskan masa tuanya dengan terus bekerja. Kaki rentan
pak Saad masih kokoh bergerak menyusuri jalanan terminal demi lembaran rupiah.
Disisa-sisa usia tuanya, pak Saad mencoba bertahan diatas pahit getirnya
kehidupan. Rasa syukur atas segala yang ada selalu mengingatkan pak Saad, bahwa
hidup yang masih bisa dijalaninya hingga saat ini, tak lain adalah anugerah
dari Allah SWT.
Hal yang miris ketika yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin
miskin, rasa kepedulian terhadap sesamapun semakin luntur. Rasa simpati dan empati seakan menjadi hal yang sulit
untuk dilakukan.
Semua itu adalah ketimpangan sosial yang semakin merajalela.
Semangat Pak Saad yang tidak pernah padam seakan menjadi cambuk bagi kita yang
masih produktif. Jika dengan usianya
yang sudah lanjut usia saja bisa begitu besar semangatnya. lantas bagaimana dengan kita yang masih muda
namun waktunya habis digunakan untuk bermalas-malasan ? Ya begitulah kehidupan,
kadang orang yang sudah berkecukupan sering tidak bersyukur atas apa yang telah
mereka miliki. Kadang mereka yang memilki banyak waktu tapi begitu mudah
membuang waktunya tanpa hal-hal yang bermanfat. Tanpa mereka sadari ada orang yang
lebih menderita, ada orang yang lebih sulit, ada orang yang ingin hidupnya
lebih baik seperti mereka. Lagi- lagi kita tidak bisa
menentang takdir, ujian yang dijalani pak Saad sesungguhnya
adalah
tarbiyah yang diberikan oleh Allah SWT untuk
kita.
Mau tidak mau, suka atau tidak suka
pak Saad harus terus berjalan menjalani kerasnya ujian hidup. Meskipun begitu,
selalu ada cara baginya untuk mensyukuri nikmat Allah SWT. Ia percaya bahwa rezeki sesungguhnya telah diatur oleh
Allah swt. Sekeras apapun kita bekerja jika memang bukan rezeki kita maka, pada
akhirnya akan lepas juga. Sejatinya hidup tak harus selalu dengan cara yang
mewah, sebab bersyukur dan menjadi bahagia bisa dilakukan dengan cara yang
sederhana. Tetap semangat pak Saad, teruslah berjuang karena kaya bukan tanda
mulia, dan miskin bukan tanda hina. Yakinlah
bahwa tak ada usaha yang mengkhianati hasil. Tetaplah menjadi inspirasi untuk
kami semua. Segala bentuk kesabaran, dan keikhlasan hati yang tulus, niscaya
akan membuahkan sebuah kebahagiaan sejati bagi hambaNya tepat pada waktunya. Semoga bermanfaat (ey)


Komentar
Posting Komentar