Foto Essay 3


JANGAN RENGGUT KEBAHAGIAANKU


Jiwa yang suci, hati yang tulus, dan sikap yang lugu. Itulah yang sangat melekat dari diri setiap anak-anak. Keceriaannya menjadi semangat bagi setiap orang yang melihatnya. Kesedihannya menjadi duka bagi setiap orang yang merasakannya. Kebahagiaan yang selalu terpancar dari wajah nya dan senyuman yang selalu terukir dari bibirnya, menjadi harapan dari setiap orang tua. Tumbuh dan berkembang dengan baik dan aktif.  Semua terasa begitu sempurna jika sesuai dengan harapan kita.

Sudahkah harapan itu terwujud untuk anak-anak Indonesia ? Apakah anak-anak Indonesia telah mendapatkan haknya sebagaimana mestinya ?

Dikutip dari http://www.kpai.go.id/berita/8194/ “Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) saat ini mencatat ada 1000 kasus kekerasan pada anak dalam kurun waktu selama tahun 2016. Jumlahnya bisa meningkat karena ada yang laporan di Polri dan jajarannya”

Dari kutipan tersebut memberikan fakta mengerikan bahwa masih banyak anak-anak Indonesia yang tidak mendapatkan hak nya sebagaimana mestinya. Hak dari seorang anak untuk mendapatkan perlindungan dan kebebasan untuk bermain.
Bukannya mendapatkan perlindungan dan kebebasan untuk bermain, anak-anak malah diperlakukan secara kasar. Di indonesia sendiri, kasus mengenai tindak kekerasan terhadap anak tak dapat terelakkan lagi. Masa kecil yang seharusnya penuh dengan kebahagiaan malah direnggut oleh orang-orang yang tidak berprikemanusiaan.

Kasus tindak kekerasan juga tak jarang dilakukan oleh orang tua dari sang anak sendiri, sungguh miris sekali. Anak-anak terkadang diharus kan turun kelapangan untuk mencari uang, padahal bukanlah kewajibannya untuk melakukan hal itu. Seorang anak butuh bermain dengan anak-anak lainnya. Hal itu untuk pertumbuhan mental dan psikisnya. Banyak dari anak-anak yang masa kecilnya kurang bahagia dikarenakan tindak kekerasan yang dilakukan oleh orang tua nya sendiri atau oleh orang lain.

Hal ini menjadi persoalan khusus bagi kita semua. Tidak hanya kewajiban aparat kepolisian untuk menindak tegas tindak kekerasan terhadap anak, namun kita sebagai bangsa Indonesia juga tidak boleh bersikap apatis terhadap anak-anak yang ada disekitar kita. Kita tidak boleh membiarkan anak-anak diperlakukan semena-mena oleh orang lain. Kita harus bersuara untuk membela apa yang benar dan bertindak untuk sebuah keadilan. Sehingga ketika kita melihat seorang anak kecil diperlakukan kasar maka kita kita tidak hanya diam namun juga ikut andil dalam membela anak kecil itu. Ingat, kita tidak harus menjadi polisi untuk menolong orang lain.

Anak-anak adalah aset bangsa dan sekaligus generasi penerus bangsa. Kita bisa membiarkan genarasi penerus bangsa ini menjadi terganggu mental dan psikis nya. Karena itu akan berpengaruh untuk masa depan bangsa Indonesia. Mereka yang mendapatkan tindak kekerasan akan merasakan trauma, bukan tidak mungkin juga mereka akan besifat anarkis dan malah mencoba mencari perhatian dengan orang lain dengan cara-cara yang tidak baik. Semua bisa saja terjadi karena psikis nya telah terganggu.

Maka dari itu, seorang anak haruslah mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya, dari orang sekitar, bahkan dari orang yang tidak dikenalnya sekalipun. Hal Ini akan berdampak baik baginya, mereka akan merasa dianggap, dan merasa nyaman meskipun harus berada dilingkungan yang baru. Seorang anak berhak mendapatkan perlindungan dan kebebasan. Jangan sakiti anak-anak, jangan rampas kebahagiaannya, dan jangan hilangkan senyum darinya.

Jangan lampiaskan setiap kemarahan kepada anak-anak karena pada kenyataannya mereka tidak bersalah, yang bersalah adalah orang-orang yang tidak bertanggungjawab. dan tidak memiliki rasa kemanusiaan. Cukup sampai disini kekerasan terhadap anak jangan biarkan persoalan ini terus berkembang, sudah cukup banyak anak-anak yang menderita karena kekerasan. Saatnya Indonesia berbenah, saatnya anak-anak Indonesia maju dan berbahagia dengan masa kecilnya. Semoga bermanfaat (Ey)

Ditulis oleh Ema yanti
Mahasiswa Ilmu Komunikasi (FISIP UNTAN)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Listening Text

perkuliahan dibulan puasa

Tradisi Fenomenologi