Tradisi Semiotika
Tradisi
Semiotika
Tradisi Semiotika merupakan salah
satu tradisi yang ada didalam teori komunikasi. Sebagai
mahasiswa Ilmu Komunikasi kita sudah sepatutnya untuk tahu dan paham apa yang
dimaksud dengan Semiotika. Apa itu tradisi Semiotika ??
Berdasarkan dari buku Griffin (2006)
dan Littlejohn & Foss (2008) Oleh : Prof. Sasa Djuarsa Sendjaja, Ph.D. Departemen
Ilmu Komunikasi FISIP-UI mejelaskan bahwa “Tradisi Semiotika memandang
komunikasi sebagai proses berbagi makna melalui tanda-tanda. Dengan demikian
Semiotika padadasarnya merupakan studi tentang tanda-tanda atau lambang”.
Semiotika adalah pendektan yang digunakan untuk memahami
tanda-tanda dalam proses komunikasi. Tradisi semiotik terdiri atas sekumpulan
teori, dimana teori itu nantinya akan menjelaskan bagaimana caranya tanda-tanda merepresentasikan
benda, orang, ide, keadaan, situasi, perasaan. Konsep dasar yang menyatukan
tradisi semiotika adalah “tanda” yang diartikan sebagai a stimulus
designating something other than itself (suatu stimulus yang mengacu pada
sesuatu yang bukan dirinya sendiri
Adanya sebuah penyelidikan mengenai tanda-tanda tidak hanya memberikan
cara atau pandangan kita untuk melihat komunikasi, namun juga memiliki pengaruh yang kuat pada
hampir semua perspektif yang sekarang diterapkan pada teori komunikasi. Dalam tradisi
Semiotika, tradisi ini melibatkan ide dasar triad of meaning yang menegaskan
bahwa arti muncul dari hubungan antara tiga hal: benda, manusia, dan tanda.
Asumsi
Dasar Tradisi Semiotika
konsep
dasar dalam Tradisi Semiotika, bemakna sebuah tanda yang didefinisikan sebagai
sebuah stimulus untuk menunjukkan kondisi lain. Misalkan ketika kita melihat
sebuah awan mendung maka hal tersebut menandakan bahwa akan segera hujan. Tiap simbol antara masyarakat satu dan
masyarakat lainny pasti akan berbeda akan berbeda maknan turunya ketika digunakan
dalam berkomunikasi. Dengan perhatian pada tanda dan simbol,
semiotik menyatukan kumpulan teori-teori yang sangat luas dan berkaitan dengan
bahasa, wacana dan tindakan-tindakan nonverbal. (Littlejohn, 2009 : 54).
Semiotik merupakan ilmu yang
memiliki segi keunikan tersendiri. Budaya menjadi aspek yang esensial dalam
kajian tradisi ini, sebab budaya menentukan tiap makna yang terkandung dalam
sebuah simbol. Oleh sebab itu dalam semiotik tanda memiliki sifat arbitrer.
Kebanyakan pemikiran semiotik melibatkan ide dasar triad
of meaning yang
menegaskan bahwa arti muncul dari hubungan di antara tiga hal: benda(atau yang
dituju), manusia (penafsir), dan tanda.
Charles Sanders Peirce dan Ferdinand
de Saussur merupakan pakar dan pemuka-pemuka utama dalam semiotika modern, kedua
tokoh inilah yang memunculkan dua aliran utama semiotika modern. Tradisi semiotik ini tidak hanya sekedar memaknai setiap bentuk tanda,
tetapi juga memiliki aspek penting dalam melakukan persuasif terhadap orang
lain. Pada titik inilah kajian semiotik memiliki segi keunikan tersendiri,
yaitu bagaimana memaknai tanda dan mempersuasif orang lain dengan pemaknaan
terhadap tanda tersebut.
Varian
Dalam Tradisi Semoitika
Tradisi Semiotika itu terbagi atas
tiga yaitu:
1.
Semantic (bahasa), Bahasa disini merujuk
pada bagaimana hubungan antara tanda dengan objeknya atau tentang keberadaan
dari tanda itu sendiri yang ditunjukanna.
2.
Sintaktik, Sintatik disini merujuk
kepada sebuah hal yang mengenai hubungan di antara tanda. Tanda tidak pernah
sendirian mewakili dirinya, tanda adalah selalu menjadi bagian dari sistem
tanda yg lebih besar (kompleks). Sintaktik memungkinkan manusia menggunakan
berbagai kombinasi tanda yang sangat banyak untuk mengungkapkan arti atau
makna. Sintaktik juga merupakan kajian
hubungan diantara tanda-tanda.
3.
Paradigmatic, Paradimatig disini
merujuk kepada bagaimana sebuah tanda dapat membedakan antara satu manusia
dengan yang lain atau sebuah tanda bisa saja dimaknai berbeda oleh
masing-masing orang sesuai dengan latar belakang budayanya. Pragmatik
memperlihatkan bagaimana tanda-tanda membuat perbedaan dalam kehidupan setiap
manusia yang ada.
Keunggulan semiotika terletak pada
ide-ide tentang kebutuhan akan bahasa umum dan identifikasinya tentang
subyektifitas sebagai penghalang untuk memahami akna yang sebenarnya dari
setiap simbol yang ada, namun tentunya juga tak lepas dari kekurangan. Kekurangan
dari tradisi Semiotika sendiri. Kemudian selanjutnya kekurangan dari tradisi
semotika adalah mudahnya terjadi kesalahpahaman dengan menggunakan tanda-tanda
atau symbol, yang terkadang niat positifpun menjadi negatife karena hanya
menggunakan tanda atau symbol. (Ema Yant)
Referensi :
1. dari
buku Griffin (2006) dan Littlejohn & Foss (2008) Oleh : Prof. Sasa Djuarsa
Sendjaja, Ph.D Departemen Ilmu Komunikasi FISIP-UI
2.
Jurnal Komunikasi Massa Vol 4 No
2 Juli 2011
Komentar
Posting Komentar