TIDAK ADA YANG INSTAN, BERPROSESLAH”

 Sabtu, 17 Muharram 1442 H/5 September 2020‎


‎“TIDAK ADA YANG INSTAN, BERPROSESLAH”‎

Ustadz Luqmanulhakim (05.31-06.36 WIB)‎

https://www.youtube.com/watch?v=LGLw1_pcw_o


A'udzubillahi minasysyaithonirrajim...‎

Bismillahirrahmanirrahim..‎

Bersyukur kita kepada Allah swt dengan sama-sama mengucapkan: Alhamdulillahi ‎rabbil’alamin...‎

Shalawat kita kepada Nabi Muhammad dengan sama-sama mengucap: Allahumma shalli ‎‎‘ala sayyidina muhammad, wa ‘ali sayyidina muhammad...‎

Qala rabbish rahli shadri wa yassirli amri, wahlul uqdatan min lisani, yafqahu qauli,.. 


Semua kita pengen dapat kebaikan. Setuju gak? Bahkan, ada yang ingin dapat keajaiban. ‎Maksudnya, ada pertolongan Allah di luar nalar dia. Pernah dengar kun fayakun? Di ‎surah Yasin yang baru kita baca. Yang diharapkan manusia itu mendapatkan “kun ‎fayakun”. Apa artinya? Jadi, maka jadilah. Contohnya nih, laut terbelah dilewati manusia. ‎Bisa? Kalau dalam kehidupan normal? Gak mungkin. Siapa yang mengalami? Nabi Musa. ‎Api itu panas atau dingin? Tapi bisa jadi dingin karena Allah perintahkan. Kalau kita pikir ‎pakai akal, api itu kan panas. Tapi yang terjadi pada Nabi Ibrahim. Dingin. Air, itu bisa jadi ‎sahabat, bisa jadi musuh. Di zaman Nabi Nuh, air itu memusnahkan seluruh manusia. ‎Nabi Zakariya punya istri, mandul. Bisa punya anak?‎


Sekarang kun fayakun yang dalam Qur’an itu teman-teman percaya ndak? Nabi Yunus ‎masuk dalam perut ikan, hidup, tidak ada oksigen. Kenapa antum percaya dengan apa ‎yang difirmankan dalam al-Qur’an? Sekarang yang diceritakan dalam al-Qur’an itu? Fakta ‎atau mitos? Setiap jengkal huruf dalam al-Qur’an itu adalah kebenaran. Kenapa hadiah ‎dari Allah itu, ada yang percaya, ada yang tidak? Karena setiap orang mengukurnya ‎dengan otaknya. Dia mengukur pertolongan Allah itu dengan otak yang terbatas. Kan ‎tidak harus masuk akal, yang penting masuk rekening.‎


Ada urusan ke Covid dengan rezeki? Ada teman-teman kita yang justru Covid ini dapat ‎lapangan pekerjaan, dia dapat rezeki, dekat dengan masjid. Jadi, di otak kita itu rezeki itu ‎identik dengan duit. Apakah melulu duit gitu? Nggak. Semuanya punya masalah kan, ada ‎yang harus diselesaikan kan? Antum datang ke SMK ini kan, ambil yang baik-baik, gak ‎pun gak pape.‎


Terkadang ada masalah itu yang tidak perlu diselesaikan. (kalimat belum selesai). Ada ‎masalah, atau kondisi dalam kehidupan itu yang tidak perlu kita yang menyelesaikan. Ia ‎selesai dengan pertolongan Allah. Hari ini saya ingin menyampaikan satu kata kunci yang ‎sangat penting. Kunci yang bisa membuat langit terbelah, laut terbelah pada zaman Nabi ‎Musa. Maryam bisa hamil tanpa ada suami. Kun fayakun ini antum bikin daftarnya, Nabi ‎Nuh naik kapal, Nabi Musa bisa belah laut, Nabi Isa bisa bicara saat bayi, Maryam bisa ‎hamil tanpa suami, api Nabi Ibrahim, Nabi Sulaiman bisa bicara dengan binatang, Nabi ‎Ayyub sakit bertahun-tahun/‎


Yang ingin saya sampaikan, kalau kun fayakun pernah terjadi dan sangat mungkin terjadi. ‎Yang menjadi pertanyaan adalah Allah bikin Nabi Nuh dapat pertolongan bisa gak? Api ‎jadi dingin. Semua ini BISA. Ente belum dapat jodoh, lalu dapat jodoh. Bisa. Ente dihina, ‎tapi lalu dimuliakan. Bisa. Sekarang pertanyaannya, Allah mau atau tidak memberikan ‎pertolongan kepada kita. Kata Allah itu, GIVE ME REASON. Ini materi lama yang sudah ‎saya bahas bertahun-tahun lalu. Tidak ada materi baru.‎


Sering-seringlah bertanya pada diri sendiri. Allah bisa bantu Nabi Musa, Nabi Ibrahim. ‎Tapi jangan coba-coba bakar tangannya. Apa yang membedakan? Iman. Pertanyaannya, ‎Allah berkehendak tidak menolong kita. Kira-kira apa ya mahar yang bisa saya bawa ‎untuk menghadap Allah. Kalau liat amal sholeh, rasanya kita nih masih receh. Kalau liat ‎apa yang sedang kita kerjakan, rasa-rasanya masih jauh. Kira-kira pintu mana yang bisa ‎membuat Allah mau menolong kita. Mohon maaf, pelacur ngasih minum anjing masuk ‎surga. Apakah harus jadi pelacur dulu untuk memahaminya? Gak gitu juga.‎


Ada rumus yang tidak bisa kita lepaskan. Kita kuat karena Allah dekat. Allah dekat karena ‎kita taat. Taat saat kapan sih? Taat saat sedang sendirian. Jadi, kalau mau ambil Golden ‎Moment untuk merayu Allah, golden momentnya itu saat sendirian. Gimana ‎menghadirkan ketaatan saat sedang sendirian. Itulah kualitas kita yang sesungguhnya. ‎Maka kalimatnya, Innama amruhu idza arada syai-an, an yaqululahu kun fayakun. Jadi ‎kun fayakun ada karena ada irada nya Allah. ‎


Dulu, saya berpikir gini. Saya bekerja, lalu dapat uang, sisanya bisa membeli barang yang ‎diinginkan. Saya dulu pernah jual pembalut, satu pembalut dapat keuntungan RM1,5. ‎untuk makan, saya harus bisa jual minimal 10 pembalut. Yang saya presentasikan itu ‎TKW-TKW di Indonesia. Padahal saya S2 di kampus internasional. Otak saya RM15 ‎dijual dengan 10 pembalut. Apa yang terjadi teman-teman? Saya jadi capek dengan target ‎yang saya tentukan sendiri. Kalau tidak terjual 10, tidak bisa makan aku. Ini kalimat yang ‎berbahaya ni. Saya sedang tidak ingin berdebat untuk orang-orang yang ‎mengatasnamakan berikhtiar mencari rezeki. Antum benar. Kalau tidak bisa menjual 10, ‎saya tidak bisa makan. ingat tadi polanya, kerja, dapat uang, kalau lebih, bisa beli barang ‎yang diinginkan. Itu otak saya dulu. Harus jadi bintang 8 untuk dapat Camry. Apa yang ‎didapat? Insomnia, badan remuk. Tapi, saya mau ngasih dimensi yang lain. Ini hanya bisa ‎dirasakan oleh hati, oleh iman.‎


Saya pernah punya hutang ribuan ringgit. Mungkin perlu jualan ribuan pembalut untuk ‎bayar hutang. Ingat kalimatnya, kalau tidak bisa jual 10, saya tidak bisa makan. Akhirnya, ‎saya punya standar baru untuk bisa makan. Awalnya tipis antara ikhtiar dengan berharap ‎kepada Allah. Lama-lama, saya menjadi menuhankan kerja, menuhankan uang. Akhirnya ‎yang diandalkan otak, kerja keras. Badan kurus, 48 kg. Stress, pasti. Hari-hari cuman ‎termenung jak bawaannya. Saya dikasih Allah tiga; satu, sibuk tiada henti. Dari pagi ‎sampai malam kayak tak ada waktu gitu. Kedua, kurang tiada cukup. Dapat RM15, ‎langsung habis. Pusing lagi. Pernah dapat banyak RM700, jadi pembicara. Tapi pulang ke ‎rumah, ganti piston. Belum sempat dinikmati, minus RM100. Ketiga, rugi tiada untung.‎


Apa yang Allah kasih ke saya? Ada yang sama? Stres, sibuk tiada henti, kurang tiada ‎cukup, rugi tiada untung. Sekarang saya paham, kita bukan bekerja, tapi dikerjain sama ‎dunia. Sakit? Sakit. Capek? Capek. Dan abang-abang semua, saat itu saya mulai ‎mengoreksi diri. Ini kayaknya ada yang salah ini. Ada yang mengalami gak? Pernah atau ‎sedang? Koq antum tenang-tenang jak sih. Nih, pasti ada yang salah. Oke, apa yang ‎terjadi kawan-kawan. Setelah saya mendoktrin diri saya dengan kata-kata, kalau tidak ‎bisa menjual 10, maka saya tidak bisa makan. Maka, yang terjadi? Saya harus jualan dulu ‎baru bisa makan. Saya mengesampingkan irada Allah dengan kun fayakun. Tapi pulang ‎‎2012, saya dapat ayat intansurullah yansurkum. Kalau mau dibantu, bantu dulu orang ‎lain. Kalau mau dimudahkan, mudahkan orang lain..‎


Saya harus ngulang episode ini untuk mengingatkan diri saya, keluarga saya, tidak ada ‎yang instan. Semua perlu proses. Roti enak gak? Apa bahan bakunya roti? Tepung, gula, ‎roti, mentega. Sekarang kita pisah-pisah, masukkan ke mulut. Bisa jadi roti dalam perut? ‎Gak. Tidak ada yang instan, berproseslah. Allah mau nolong kita itu, gak perlu harus ‎jualan pembalut. Gak harus melakukan sesuatu. Allah hanya butuh alasan. Ooh ternyata ‎Allah rindu dengan air mata kita, dengan merengek-rengeknya kita. Episode itulah yang ‎menghadirkan irada-nya Allah. Saat kita sudah tidak lagi berharap kepada manusia, tapi ‎hanya berharap kepada Allah. Ada cara lain.‎


Saya datang ke Kuala Lumpur, lalu naik bis lagi ke Pagoh. Saya datang menemui Pak Joh ‎dan Kak Fatimah. Pak Luqman kata kak Fatimah, saya atas nama suami mau ‎menyampaikan sesuatu. Saya mau menyampaikan pesan suami, dia malu mau ketemu Pak ‎Luqman. Pak Jo dan saya beberapa tahun yang lalu sempat memakan hasutan orang ‎tentang Pak Luqman. Maka, saya juga malu dengan Pak Luqman. Karena saya juga tau, ‎Pak Luqman pulang ke Indonesia. Akhirnya saya tau mana yang tulus mana yang modus, ‎kami merasa kehilangan saat Pak Luqman sudah tiada. Akhirnya mereka sepakat, hutang ‎saya yang RM6000 itu dianggap lunas sebagai permintaan maaf. Tapi dua tahun di ‎Pontianak itu, dicaci maki orang. Mikul beras. Matikan facebook. Naik motor Astrea ‎Grand, ngisi ceramah tidak dibayar. Mikul beras sambil nangis. Saya sangat percaya, ‎Engkau akan menolong saya jika saya menolong agamaMu, saya butuh-butuh cara baru ‎dengan hanya berharap kepadaMu. Begitu kalimatnya keluar, air matanya keluar, ‎sujudnya semakin dalam, ada yang hina saya diam, gak saya balas sepatah kata pun, saya ‎tidak klarifikasi, gak ada Facebook. Kadang-kadang orang itu, sudah miskin, sombong. ‎Banyak gaya. Padahal episode di bawah itu, diinjak-injak itu adalah episode dekat dengan ‎Allah.‎


Episode di Indonesia, saya hutang Rp96juta. Bang Opi jadi saksi. Lagi ngajar SMK ‎ditelpon orang, yang lagi marah-marah. Lagi ngisi tauhid, lagi ngasih semangat. Ada ‎masalah. Setelah kajian, saya ngajak Bang Pi datang menemui investor Warung Kopi Tok ‎Aji. Ingatkan saya, saya akan bayar 96juta tapi dengan cash tempo. Mereka sudah ‎ngumpul sekeluarga, saya seperti disidang. Saya dengarkan, diam jak. Dalam hati saya ‎bilang, saya yang salah. Saya bilang, saya mau cerita bahwa warung kopi yang dijual tidak ‎laku. Jual pecel disantet orang. Tapi yang unik, banyak orang datang untuk menitipkan ‎infak. Kami nih bang, warung kopi tapi punya gerakan infaq beras. Jadi tempat titipan ‎duit, titipan kelambu. Saya jadi bingung, kenapa warung kopi jadi tempat titipan untuk ‎anak yatim. Saya cerita ke mereka, ada anak yang mau jual cucunya. Habis itu, si abang ‎bilang gini. Oh, ya udah kalau gitu. Kami sekeluarga sudah mendengar cerita bang ‎Luqman, kami sekeluarga ini mengikhlaskan yang 96juta. Nangis saya. Ternyata begini ‎iradanya Allah.‎


Kak, terimakasih kak. Atas wasilah kakak dulu, warung kopi tok Aji menjadi tempat ‎pertama merintis gerakan infaq beras. Kak, ngalir juga pahalanya untuk kakak. Makanya ‎saya marah kalau dulu antum saat susah sholeh, tapi saat senang jadi lupa. Saat jomblo ‎taat, ketika sudah punya anak lalu menjauh. Antum saat menjadi SPA, lalu berharap ‎kepada uang itu. Itu kan bukan gaji, tapi ihsan. Pemberian. Jangan antum bermental ‎seperti karyawan-karyawan biasa. Kalau mau lebih, minta sama Allah lah.‎


Apa yang mau saya sampaikan? Ada cara lain. Dan cara Allah menolong hambaNya itu ‎beda-beda. Tapi ada pola yang bikin sama. Satu, jangan pernah meminta dan berharap ‎kecuali sama Allah. Yang kedua, bersih-bersihkan hati. Jangan ada benci sama orang lain. ‎Jadi, ingat-ingat ya cara Allah menolong hamba itu beda-beda. Ingat yang saya sebutkan ‎tadi, berproseslah. Tidak bisa masuk tepung, jadikan dulu roti. Proses pembuatan roti ‎itulah prosesnya. Silahkan merenung hari ini. Masak iya sih datang ke Allah harus punya ‎masalah dulu. Jadi, gak ada yang instan di dunia ini teman-teman. Ada proses yang harus ‎dijalani. Jangan berharap atau minta sama selain Allah. Bersih-bersih hati. Ciri bersih hati ‎itu, antum dipuji atau dihina same jak.‎


Saya tidak tau apa yang antum ingat, tapi Bonthai akan bikin baju “Iri adalah jalan pintas ‎menuju neraka.” Jadi, begitu teman-teman semua. Semoga Allah mudahkan segala urusan ‎kita. Allah hapuskan dosa-dosa kita. Tidak ada yang instan, berproseslah. Semoga Allah ‎hapuskan dosa-dosa kita, Allah sehatkan kita. Titip doa untuk saya, istri saya yang sedang ‎berproses bertaubat juga untuk jadi orang baik. Hadanallahu wa iyyakum ajma’in.‎

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Listening Text

perkuliahan dibulan puasa

Tradisi Fenomenologi