Perspektif Interaksional


Perspektif Interaksional




Didalam kajian teori komunikasi ada yang namanya perspektif komunikasi. Perspektif komunikasi itu terbagi menjadi :


1.      perspektif mekanistis


2.      perspektif psikologis


3.      perspektif intraksional


4.      perspektif pragmatis, dan


5.      perspektif campuran.


Pada artikel saya kali ini, kita akan membahas  lebih lanjut mengenai “perspektif Interaksional” Apakah yang dimaksud dengan perspektif  Interaksional?? Sebelumnya kita akan membahas definisi dari perspektif terlebih dahulu.  


Perspektif adalah cara pandang atau sudut pandang kita dalam menilai sesuatu. Dikutip dari sebuah laman situs web  https://id.wikipedia.org/wiki/Perspektif_%28visual%29 menyatakan bahwa  Perspektif adalah konteks sistem dan persepsi visual adalah cara bagaimana objek terlihat pada mata manusia berdasarkan sifat spasial, atau dimensinya dan posisi mata relatif terhadap objek”. Perspektif secara sepintas sama dengan persepsi, namun sebenarnya perspektif bukan resepsi melainkan pemandu persepsi kita. perspektif mempengaruhi apa yang kita lihat dan bagaimana cara kita menafsirkan apa yang kita lihat.
Sedangkan Perspektif Interaksional merupakan merupakan studi tentang interaksi manusia terhadap masing-masing individu. Fokusnya pada peran individu. Pemberian penekanan yang manusiawi pada unsur perspektif interaksional. Perspektif ini tidak hanya memandang individu dalam interal saja tetapi, seorang individu dapat menilai dirinya sebagai orang lain, meninggalkan bahwa dirinya adalah sebagai dirinya, tetapi menilai dirinya dengan  seolah-olah sebagai orang lain. proses ‘penunjukan diri’ di mana individu dapat ‘bergerak ke luar’ dari diri dan melibatkan dirinya dalam introspeksi dari sudut pandangan orang lain. Individu dapat mengambil peran dan mendefinisikan tentang dirinya sendiridan orang lain. Moment pengambilan peran inilah yang menjadi sebagai proses sosial yang bisa terjadi dalam bentuk intropeksi dan ekstropeksi.
Intropeksi merupakan pengamatan terhadap diri. Intropeksi ini bisa terjadi dengan sengaja atau tidak sengaja, dan pada kenyataannya kita dalam kehidupan sehari-hari sadar atau tidak sadar selalu melakukan intopeksi diri. Pengamatan itu terjadi karena adanya suatu peristiwa yang sebelumnya terjadi. Sedangkan ekstropeksi adalah  melihat atau menilai keluar orang lain, bersifat negatif karena selalu mencari alasan untuk pembenaran diri. Misalnya ketika seseorang melakukan sebuah perbuatan misalnya mencontek, ia melakukan hal itu karena ia berfikir bahwa orang lain juga mencontek. Mencari pembenaran  atas sikap dan tindakannya yang tidak benar.  
Maka ari itu, ketika seseorang dinilai oleh orang lain atau dikritik maka hal ini akan memberikan effect bagi orang yang telah dinilai. Effect ini bisa berupa bentuk “intropeksi diri” dimana ia akan berfikir dan merenung apa yang harus diperbaiki dari dirinya, apa yang salah dan apa yang harus dilakukannya agar kedepannya tidak terjadi hal-hal yang dapat memancing orang lain untuk menilai buruk terhadap dirinya.  
Dengan adanya interaksi ini menghasilkan sebuah perkembangan pada masing-masing individu. Sebagai contoh ketika antara dua orang  asing yang secara tidak sengaja bertemu pada sebuah taman, kemudian mereka duduk bersebelahan di taman itu, kemudian si A berkenalan dengan si B. Tentunya si A juga tak lupa menyakan nama, tempat tinggal dsb. Ketika pada keduanya (antara si A dan B) mempunyai kesamaan misalnya sama-sama tinggal di BLOK M misalnya, maka keduanya akan lebih openess, mereka akan lebih terbuka dan lebih menciptakan sebuah interaksi yang efektif diantara keduanya.
Dalam hal ini individu tidak hanya berbicara secara sepihak, namun berjalan dua arah. Menurut Blumer  (seorang penganut interaksional) mengemukakan 3 premis yang menjadi dasar model ini :
1.      Manusia bertindak berdasarkan makna yang diberikan individu terhadap lingkungan sosialnya (simbol verbal, simbol non verbal, lingungan fisik).
2.      Makna itu berhubungan langsung dengan interaksi sosial yang dilakukan individu dengan lingkungan sosialnya.
3.      Makna diciptakan dipertahankan, dan diubah lewat proses penafsiran yang dilakukan individu dalam berhubungan dengan lingkungan sosialnya.
Pada kesimpulannya persepktif interaksional menitik beratkan pada tindakan dan perilaku seseorang, khususnya tindakan sosial  (yang dilakukan secara bersama). Perspektif interaksional berkembang secara tidak sengaja yang berasal dari  sosiologi yang biasa kita kenal dengan teori interaksi simbolis. Dengan adanya perspektif interaksional ini kita dapat mempelajari lebih jauh bagaimana berinteraksi dengan orang lain, bagaimana kita menempatkan peran kita masing-masing pada suatu tempat dan kondisi. Sekian dan terimakasih. Semoga bemanfaat :)


referensi :  https://id.wikipedia.org/wiki/Perspektif_%28visual%29








Ditulis pleh emayanti, mahasiswa prodi ilmu komunikasi FISIP UNTAN angkatan 2016








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Listening Text

perkuliahan dibulan puasa

Tradisi Fenomenologi