Mengenal Jurnalisme Kenabian



Profil Jurnalis Profetik

Kata profetik berasal dari bahasa Inggris prophetic. Prophetic artinya adalah kenabian. Oleh karena karena itu, jurnalisme profetik adalah jurnalisme kenabian. Dalam hal ini, jurnalisme kenabian maksudnya adalah mempraktikkan atau meneladani akhlak dan perilaku yang telah diajarkan oleh Nabi.
Ciri-ciri dari jurnalisme profetik yaitu ; yang mengedepankan profesioanalitas dan etika, mereka adalah orang-orang yang tercerahkan, terpanggil, yakin, dan berkhidmat untuk berbuat, yang bertugas untuk mengungkapkan kebenaran, menegakkan keadilan, mendukung terciptanya kesejahteraan menciptakan perdamaian, dan menjunjung tinggi kemanusiaan yang universal. Jadi, menurut Parni Hadi pada dasarnya para wartawan adalah pewaris dan penerus tugas kenabian.
Salah satu tokoh jurnalis yang mendekati dengan ciri-ciri jurnalisme profetik ini adalah Atang Ruswita. Ia merupakan tokoh  jurnalis Indonesia yang telah mendedikasikan hidupnya untuk dunia jurnalistik dan kemanusiaan. Sosok Atang tidak hanya memberikan informasi tentang sebuah kebenaran tetapi juga bijak dalam bersikap dan mengambil sebuah keputusan. Atang Ruswita lahir di Bandung, 26 April 1933. Ia dikenal sebagai sosok yang ulet dan otodidak.
Meski tidak pernah mengenyam dunia pendidikan sebagai seorang jurnalis. Namun, karena tekad nya yang kuat untuk belajar, beliaupun tumbuh menjadi wartawan senior yang dikagumi oleh banyak juniornya. Atang telah memiliki bakat menjadi seorang jurnalis semenjak ia menduduki bangku SMP. Hal ini terlihat dari kegemarannya dengan dunia tulis menulis. Kegemarannya nya inipun berlanjut hingga ia memasuki bangku SMA.  Sekitar tahun 1954-an Beliau sudah bekerja sebagai reporter surat kabar Pikiran Rakyat.
Hingga akhirnya ia diangkat menjadi bagian staff redaksi Pikiran Rakyat pada tahun 1960-1967an. Seiring berjalannya waktu, kemudian Atang menjadi Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi Pikiran Rakyat setelah Sakti Alamsyah meninggal dunia pada tahun 1983. Berkat kepemimpinannya, Pikiran Rakyatpun menjadi salah satu  surat kabar yang eksis, maju, berkembang bahkan berpengaruh di Jawa Barat berkat manajemen dan professionalitas yang ia terapkan pada seluruh karyawan baik itu bawahan maupun dan atasan.
Tidak hanya itu pada zaman kepemimpinan Atang Pikiran Rakyat mampu meluncurkan anak-anak perusahaan yaitu PT Granesia. Pikiran Rakyat pun saat ini telah beredar ke seluruh pelosok Nusantara sampai ke Kuala Lumpur, Malaysia dan Brunei Darussalam. Oleh karena itu, Atang disebut sebagai salah satu tokoh yang telah membesarkan nama Pikiran Rakyat, sehingga dikenal oleh masyarakat.
Jika dibandingkan dengan teman-temannya yang lain, Atang merupakan sosok yang menarik, namun juga bersahaja. Ia terlahir dari garis keturunan Banten Tasikmalaya, yang merupakan salah satu daerah yang terkenal dengan basis sosial Islamnya yang begitu kuat. Oleh karena itu sedikit banyaknya sikap, pandangan, dan keputusan nya dalam sebuah pekerjaan dan organisasi selalu membawa nilai-nilai islam dan nilai-nilai sunda didalamnya. Tetapi ia selalu membawakan nilai-nilai tersebut dengan sikap yang lembut dan sederhana, namun tetap moderat sehingga lebih mudah dimengerti oleh karyawan dan pembaca.
Memiliki bakat dan pribadi yang baik, tak jarang Atang pun diamanahkan untuk memimpin diberbagai organisasi. Beberapa karir dari Atang dalam dunia jurnalis yaitu; beliau pernah menjadi  Ketua PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) cabang Bandung, 1967. Selain itu, sejak tahun 1973 Atang juga telah dipercaya menjadi Ketua Pelaksana Harian PWI Pusat di Jakarta. Ia juga pernah dipercaya oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah sebagai Ketua GN-OTA (Gerakan Nasional Orang Tua Asuh) Jawa Barat yang merupakan sebuah gerakan pemberdayaan masyarakat di bidang pendidikan.
Selain itu Ia juga pernah menjadi ketua Rereongan Sarupi salah satu pilar pemberdayaan masyarakat Jawa Barat yang digagas oleh Gubernur R. Nuriana pada masa kepemimpinannya. Hal tersebutlah yang menjadikan ia pada tahun 1997 terpilih menjadi salah satu dari 540 orang “Tokoh Peduli Sosial Indonesia” (Suwirta, 1999) Ketua IPPI (Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia) Cimahi, Ketua
Aktif menjadi jurnalis tidak menghambat keinginan Atang untuk ikut berorganisasi. Atang dapat membagi waktunya dengan baik dan Ia aktif berorganisasi dan menularkan sikap positif dengan orang-orang yang berada disekitarnya. Baginya menjadi seorang jurnalis adalah ibadah. Oleh karena itu, sebisa mungkin ia selalu menerapkan nilai-nilai islam dalam setiap pekerjaannya. Dalam kesehariannya Atang tidak pernah membeda-bedakan status antara karyawan, baik itu atasan maupun bawahan. Kepemimpinannya sangat kental dengan kekeluargaan. Hal ini lah yang mungkin menjadi salah satu faktor  yang membuat para karyawan merasa nyaman untuk bekerja sama dengan beliau.
Tidak hanya gaya kepemimpinannya yang baik tetapi juga sederhana dan apa adanya, itulah yang selalu menjadi ciri khas dari seorang Atang. Ketika makan, Ia tidak sungkan untuk bergabung bersama dengan para karyawan dibawahnya. Ia selalu merangkul orang-orang yang berada disekitarnya. Sebisa mungkin ia akan memberikan aksi positif atau repon positif terhadap lingkungannya. Namun walaupun begitu, ia tetap memperhatikan kewibawaannya dalam mengemukakan visi dan misi dirinya saat memimpin sebuah organisasi ataupun rapat.
Seorang Atang Ruswita juga memiliki kemitraan yang baik dengan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Hal ini dapat dilihat ketika ia menjadi Ketua PWI 1967. Pendiri Kompas, Jakob Oetama menilai “sosok Atang sebagai sosok yang bisa diterima semua pihak. Dalam setiap perdebatan kalangan pers yang lekat dengan aspek konflik kepentingan, Atang selalu mempertautkan kesamaan dibanding perbedaan”. Atang merupakan Jurnalis yang sangat menghindari perdebatan. Pribadinya yang hangat, kekeluargaan, dan juga taat membuatnya menjadi sosok yang lebih menyukai kedamaian dan kesamaan dengan melakukan musyawarah ketimbang berdebat.
Beberapa  penghargaan yang didapat oleh Atang yaitu anugerah tanda kehormatan Bintang Mahaputra Utama dari pemerintah yang disampaikan langsung oleh Presiden B.J. Habibie di Istana Negara, Jakarta. Selain itu beliau juga mendapatkan penghargaan Anugerah Life Time Achievement Award sebagai tokoh yang telah berjasa dalam perkembangan pers di Indonesia.
Selama kurang lebih 50 tahun Atang telah berkecimpung di dunia jurnalistik. Pada umurnya yang ke 70 tahun, tepatnya pada 13 Juni 2003 Beliau menghembuskan nafas terakhir nya dikarenakan menderita kanker paru-paru. Keseharian Atang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan pers. Sejumlah organisasi pers dan legislatif pun banyak diikutinya. Atang juga memimpin lembaga atau yayasan sosial kemasyarakatan seperti Dompet Sosial Umul Quro.
Menjadi jurnalisme profetik memang tidaklah mudah, tetapi melalui Atang Ruswita sedikit banyaknya kita tahu bahwa jurnalis tidak hanya sekedar profesi tetapi juga membutuhkan dedikasi yang tinggi. Selalu menyampaikan kebenaran dan menebar kebermanfaatan untuk orang-orang disekeliling kita. Jurnalis dapat aktif tidak hanya di dunia kerja tetapi juga pada organisasi.
Sehingga kita dapat merangkul dan berdakwah nilai-nilai jurnalistik serta menerapkan nilai-nilai islam agar menjadi tauladan bagi jurnalis saat ini. Hal ini bukan hanya sebagai tugas semata tetapi karena memang sudah menjadi kewajiban bagi seorang jurnalis untuk menyampaikan apa yang menjadi kebutuhan bagi masyarakat. (Ema Yanti)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Listening Text

perkuliahan dibulan puasa

Tradisi Fenomenologi