Mengenal Kebudayaan Karapan Sapi


Kearifan Lokal Karapan Sapi sebagai Panangkal Hoax dan Disrupsi Informasi

Indonesia, adalah negara yang kaya akan adat dan kebudayaannya. Salah satu kebudayaan yang dimiliki oleh Indonesia adalah Karapan Sapi. Karapan Sapi ini, merupakan salah satu kearifan lokal yang dimiliki oleh masayarakat suku Madura. Kearifan lokal merupakan bagian dari budaya suatu masyarakat yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat itu sendiri. Pengertian kearifan lokal dapat dipahami sebagai nilai-nilai, gagasan-gagasan, atau pandangan warga setempat yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh masyarakat.
Kearifan lokal biasanya diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Melalui cerita dari mulut ke mulut dan menjadi tradisi. Sebagai negara Indonesia yang kaya akan suku dan budayanya, tentu masing-masing suku, memiliki kearifan lokal tersendiri. Salah satu suku yang terkenal oleh kearifan lokal nya yaitu Karapan Sapi, seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Bentuk dari kearifan lokal, tidak hanya sebagai hiburan tetapi terdapat juga pesan-pesan, anjuran, dan juga nasehat.
Dikalimantan, khususnya Kalimantan Barat, ada dua kelompok besar yang mendiami daerah itu, yani Dayak dan Melayu. Selain dua kelompok itu, juga ada kelompok Tionghoa dan Madura yang memainkan peran sosial yang cukup menentukan. Juga ada beberapa kelompok kecil lain yang berasal dari Jawa, Batak, Sunda, dan Sulawesi. Hanya jumlah dan pengaruh kelompok-kelompok terakhir itu masih relatif kecil. Suku Madura terbanyak di Indonesia yaitu di wilayah pulau Madura, yang terletak di sebelah timur laut Jawa Timur. Berdasarkan datanya Pulau Madura besarnya kurang lebih 5.168 km², dengan penduduk hampir 4 juta jiwa.


Sebelum membahas langsung mengenai kebudayaan Karapan Sapi, alangkah baiknya kita mengenal terlebih dahulu suku Madura yang ada di Kalimantan Barat, khususnya kota Pontianak. Berdasarkan observasi di Pontianak, suku Madura tersebar di tiga kabupaten/kota yaitu Kabupaten Pontianak Kota yaitu Sungai Jawi, Kabupaten Pontianak Utara yaitu Siantan Hilir dan Pontianak Timur yaitu Tanjung Hulu. Ada juga di daerah-daerah lain, namun tidak sebanyak dari ketiga daerah tersebut.
Suku Madura menggunakan bahasa Madura dalam kesehariannya. Untuk mata pencahariannya, masyarakat Madura, mayoritas adalah sebagai Petani. Mereka menanam padi disawah, sebagian hasilnya dijual dan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Tidak hanya menjadi seorang petani, suku Madura juga memelihara ternak yang terdiri dari ayam dan sapi. Perihal kepercayaan yang dianut oleh suku Madura, sebagian besar adalah islam. Tak kalah dengan suku-suku yang lainnya, suku Madurapun juga memiliki kearifan lokal yaitu Karapan Sapi yang sangat populer dikalangan masyarakat.
Karapan Sapi adalah adu balap sapi yang dipimpin oleh seorang Joki handal. Kebudayaan ini sudah cukup familiar dikalangan masyarakat. Tidak hanya oleh suku Madura, tetapi oleh berbagai suku lainnya. Tidak hanya dikenal secara lokal, tetapi juga oleh kalangan nasional bahkan international. Karapan Sapi merupakan sebuah kebudayaan yang berasal dari Pulau Madura, Jawa Timur yang sudah dikenal sejak abad ke-14 M.
Budaya Karapan Sapi ini berlangsung setiap satu tahun sekali, atau lebih tepatnya pada bulan Agustus dan September setelah melaksanakan panen. Ajang Karapan Sapi menjadi agenda tahunan yang dilombakan untuk mendapatkan Sapi yang terkuat dan juga sehat. Selain menjadi agenda perlombaan, Karapan Sapi juga menjadi pesta rakyat bagi para penonton yang ikut berpartisipasi dalam agenda tersebut karena baru saja disibukkan oleh masa-masa panen.
Sebelum pelaksanaan lomba, Sapi-sapi harus melalui perawatan terlebih dahulu. Sapi tersebut sengaja diberi perhatian lebih agar ketika perlombaan berlangsung dapat lebih kuat dan lebih sehat. Biasanya, Sapi-sapi ini diberikan makanan rumput yang halus, aneka jamu dan puluhan telur ayam per hari.
Untuk pelaksanaannya, pada Karapan Sapi terdapat seorang joki dan 2 ekor sapi yang di paksa untuk berlari sekencang mungkin sampai garis finis yang telah ditentukan oleh panitia sebelumnya. Kemudian, jika telah dibunyikan tanda mulainya perlombaan maka, Joki tersebut berdiri menarik semacam kereta kayu dan mengendalikan gerak lari sapi untuk lurus maju kedepan. Panjang lintasan pacu kurang lebih 100 meter dan berlangsung dalam kurun waktu 10 detik sampai 1 menit. Tujuan dilaksanakannya Karapan Sapi selain bentuk rasa syukur  masyarakat yang telah panen, juga untuk memperoleh Sapi-sapi dengan kualitas yang baik yang dapat digunakan untuk membajak sawah diperiode selanjutnya.
Prosesi awal dari perlombaan Karapan Sapi ini adalah dengan mengarak pasangan-pasangan sapi untuk mengelilingi arena pacuan dengan diiringi gamelan Madura, yaitu Saronen. Kemudian Beberapa menit sebelum dimulai, Sapi tersebut dimandikan kemudian di olesi dengan spiritus yang sudah dicampur balsem dan jahe yang sudah ditumbuk halus. Selain itu sapi juga diberi minuman seperti obat kuat ,ramuan dan jamu rahasia lainnya agar sapi-sapi ini bisa berlari kencang dan kuat. Kaki-kakinya pun dipijat supaya tidak tegang saat perlombaan.
Tidak hanya melakukan persiapan terhadap sapi, pemilik sapi juga melakukan ritual khusus untuk menjaga sang sapi agar bisa memenangkan lomba. Hal ini berkaitan dengan istilah ghaib yang hanya diketahui oleh sang pemilik Sapi atau sang Joki. Setelah segala persiapan dilakukan maka, acara Karapan Sapi pun dimulai. Siapa yang dapat lebih dulu menginjakkan garis finis, maka, sapi itulah yang menjadi pemenangnya. Adapun peralatan yang digunakan oleh seorang Joki untuk memberikan perintah agar sang Sapi cepat berlari yaitu, dengan menggunakan cambuk. Cambuk inilah yang akan dipukulkan kebadan Sapi agar sapi mempercepat larinya.
            Dalam Karapan Sapi yang terpenting tidak hanya pada kekuatan dan kesehatan sang sapi. Tetapi, peran dari Joki juga sangat penting. Selain bertugas mengarahkan lari sapi-sapi jantan yang melaju kencang, Joki tersebut juga harus bisa memegang kendali pada saat garis start, menapakkan dan menyelipkan kaki diantara kayu (kaleles) yang ditarik oleh sapi itu sendiri. Kewajiban lainnya yang harus dilakukan oleh Joki adalah melepas tali kekang dan meraih kayu yang melintang pada kepala sapi apabila telah tiba pada garis finis. Hal ini dimaksudkan agar sapi yang ikut pada Karapan Sapi ini dapat berhenti dan tidak lagi berlari dengan liar.
Kearifan lokal Karapan Sapi, hoax, dan juga disrupsi. Ketiganya saling berhubungan. Karapan Sapi memiliki potensi besar untuk membendung hoax yang merajelala di kalangan masyarakat. Hoax adalah segala bentuk tulisan, audio, video, dan gambar yang mengandung kebohongan dan tidak dapat dibuktikan kebenarannya karena memang tidak sesuai dengan fakta. Sedangkan disrupsi informasi adalah, perubahan dari fase belum menggunakan media sosial hingga menggunakan media sosial. Beberapa contoh dari kegiatan disrupsi ini adalah perubahan aktivitas masyarakat yang awalnya dilakukan di dunia nyata, menjadi ke dunia maya. Dulu orang jika akan melakukan transaksi, harus bertemu secara langsung yaitu tatap muka tetapi beda halnya dengan saat ini yang hanya perlu menggunakan smartphone saja.
Karapan Sapi masih sangat relevan dengan kehidupan modern saat ini. Hal ini tak lain berkat dari masyarakat suku Madura yang masih menjaga kearifan lokalnya dengan baik dan selalu mengembangkannya agar tetap dapat diterapkan sesuai dengan perkembangan zaman. Berdasarkan dari pemaparan kebudayaan Karapan Sapi tersebut terdapat beberapa korelasinya dengan nilai-nilai budaya. Nilai-nilai budaya adalah nilai- nilai yang disepakati dan tertanam dalam suatu masyarakat, lingkup organisasi, lingkungan masyarakat, yang mengakar pada suatu kebiasaan, kepercayaan, simbol-simbol, dengan karakteristik tertentu yang dapat dibedakan satu dan lainnya sebagai acuan perilaku dan tanggapan atas apa yang akan terjadi atau sedang terjadi.
            Nilai-nilai budaya yang terdapat pada kebudayaan Karapan Sapi yaitu, nilai Kejujuran. Karapan Sapi memiliki nilai kejujuran karena dalam kebudayaan tersebut terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh para pendaftar lomba salah satu nya adalah dari faktor sang hewan. Dalam hal ini sang Joki harus jujur terhadap kondisi dari Sapi yang dimilikinya. Jika memang sapi nya sedang tidak sehat atau sedang sakit, maka sapi tersebut tidak diperbolehkan untuk mengikuti perlombaan.
Jika dihubungkan dengan hoax, maka kita dapat belajar nilai-nilai kejujuran. Jujur terhadap diri sendiri dan orang lain. Jujur dengan tidak menyebarkan hoax, dan jujur bahwa sebenarnya perubahan perkembangan zaman tidak 100% berdampak positif terhadap diri sendiri dan juga orang lain. Misalnya adalah terciptanya perilaku konsumtif, dan individualistik yang tinggi.
            Nilai yang kedua, yaitu nilai Patriotisme. Dalam hal ini kita dapat berkaca pada seorang Joki yang rela untuk terombang-ambing oleh Sapi. Dibawa berlari sekencang mungkin, tanpa adanya pengaman yang digunakan oleh sang Joki, hanya ada penyanggah kaki seadanya. Dalam hal ini kita dapat melihat bahwa adanya sikap pahlawan dan pantang menyerah yang ditunjukkan oleh Joki. Meski kemungkinan jatuh itu sangat besar tetapi tekadnya untuk menjadi Joki, dan menunggangi sapi jauh lebih besar.
 Jika dihubungkan dengan hoax, maka kita sebagai pengguna media saat ini mempunyai dua pilihan. Pilihan pertama menjadi bagian dari mereka yang menggunakan media sebagai orang-orang yang dapat memberikan dampak positif bagi orang lain, yang berprestasi bagi nama baik Indonesia. Pilihan kedua yaitu menjadi bagian dari mereka yang hanya menyebarkan hoax tanpa adanya cek, ricek ,dan verifikasi sebelumnya. Semuanya tergantung dari kita apakah ingin menjadi pahlawan bagi Indonesia atau menjadi pecundang yang hanya dapat merusak kesatuan dan persatuan bangsa dengan menyebarkan hoax.
            Nilai yang ketiga, yaitu nilai persaingan, nilai persaingan ini secara otomatis telah tertanam pada kebudayaan Karapan Sapi. Hal ini karena Karapan Sapi merupakan perlombaan yang melibatkan tidak hanya satu peserta saja tetapi banyak peserta. Oleh karena itu timbul keinginan untuk memenangkan pertandingan  sebagai rasa gengsi dan harga diri. Orang madura memiliki semboyan yaitu angok pote tolang atembang pote mata ( lebih baik putih tulang dari pada putih mata ). Artinya, lebih baik mati (putih tulang) daripada malu (putih mata) yaitu tindakan menolong diri sendiri dengan cara kekerasan di kalangan orang madura.
Semboyan dari suku Madura adalah bentuk budaya malu yang diterapkan pada suku Madura. Dengan adanya budaya ini diharapkan dapat membuat masyarakat memiliki rasa malu jika tidak melakukan perilaku sebagai mana mestinya. Budaya malu ini wajib dimiliki oleh setiap masyarakat. Karena dengan adanya rasa malu ini, masyarakat menjadi segan bahkan enggan untuk berbuat hal-hal yang melanggar dan bertentangan dengan norma dan hukum adat.
Harusnya kita malu jika hingga saat ini kita tidak dapat menggunakan media dengan bijak, kita tidak dapat mengatasi modernisasi budaya barat yang masuk ke Indonesia. Konflik yang ditimbulkan oleh hoax seharusnya dapat menjadi pelajaran dan tidak seharusnya dilakukan, misalnya adalah hoax adanya gempa susulan di Palu 2018 yang telah menggemparkan masyarakat.
Oleh karena itu jika masyarakat masih memiliki rasa malu, maka ia tidak akan berbuat atau memancing keributan dengan menyebarkan hoax. Sesuatu yang tidak diperbolehkan oleh undang-undang Pasal 28 ayat 1 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau Undang-Undang ITE; "Setiap orang yang dengan sengaja dan atau tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan, ancamannya bisa terkena pidana maksimal enam (6) tahun penjara dan denda maksimal Rp 1 miliar." Oleh karena itu, seharusnya kita dapat mentaati peraturan yang telah berlaku.
            Nilai yang terakhir atau yang keempat yaitu nilai harmonis dan kerjasama. Nilai ini tercermin dalam proses perlombaan Karapan Sapi itu sendiri. Dalam hal ini, telah terjalin harmonisasi antara para sapi-sapi yang mengikuti lomba begitupun dengan kerja sama yang ditunjukkan oleh para panitia, Joki dan juga para sapi yang ikut pada perlombaan tersebut. Berdasarkan nilai yang ada di Karapan Sapi, masyarakat dapat belajar bahwa hoax dan disrupsi informasi dapat menjadi harmonisasi atau malah petaka. Jika dalam penangkalan hoax nya kita dapat bekerja sama untuk mencoba menetralisir penyebaran isu hoax, maka secara perlahan akan terjalin harmonisasi dalam ruang lingkung media dan nyata.
Tetapi jika masyarakat ikut berperan aktif mengkonsumsi isu hoax, maka hoax tersebut menjadi petaka bagi kita dan juga bagi bangsa kita, Indonesia.  Begitupun dengan disrupsi informasi. Kita dapat menjadi bagian dari mereka yang sukses apabila kita dapat mengendalikan diri terhadap perkembangan modernitas yang semakin menggila. Tantangan atas tuntutan gaya hidup yang kebarat-baratan bukan masalah yang besar, asalkan kita tetap berpegang teguh pada nilai-nilai budaya timur dan nilai-nilai budaya Karapan Sapi.
Melalui adat dan budaya yang ada pada suku Madura kita dapat belajar bahwa budaya Karapan Sapi, merupakan budaya persatuan. Tidak hanya dapat dinikmati oleh suku Madura saja tetapi juga seluruh masyarakat Indonesia. Menyatukan yang jauh, menyatukan yang berbeda. Mereka menjadi satu dengan tujuan yang sama yaitu mengucap syukur atas keberhasilan panen dan merasakan keindahan serta keseruan Karapan Sapi. Seseorang atau media tidak akan menyebarkan hoax jika mereka memikirkan tentang masa depan Indonesia. Tentang bagaimana persatuan dan dampak yang akan terjadi ketika berita hoax disebarkan. Pada tahun 2018 terdapat 6 hoax yang menimbulkan konflik dan menelan korban jiwa.
Saat ini, kearifan lokal suku Madura merupakan aset bangsa yang harus kita jaga bersama. Berdasarkan penjelasan Nurul Imamah, yakni duta lancengpraben  tahun 2018. Ia menjelaskan bahwa “Karapan Sapi merupakan simbol dan tradisi suku Madura yang harus dilestarikan, karena nilai-nilai yang terkandung didalamnya dapat menjadikan Indonesia menjadi lebih baik, mulai dari kultur, karakteristik, hingga perekonomiannya”.
Nilai-nilai yang terkandung didalamnya menjadi representasi dari suku Madura. Dengan kearifan lokal yang dimiliki suku Madura ini kita tahu bahwa nilai-nilai budaya yang tertanam dalam Karapan Sapi juga dapat diterapkan dan diadopsi pada permasalahan hoax dan juga disrupsi informasi. Sehingga tidak hanya menjadi budaya biasa, tetapi menjadi jurus jitu untuk menahan lajunya arus penyebaran hoax dan disrupsi informasi.


                                                            Penulis : Ema Yanti (E1101161020)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Listening Text

perkuliahan dibulan puasa

Tradisi Fenomenologi