Foto Essay 1



Sunrise di Tanah Surga



Masih melekat dimataku, betapa luasnya hamparan sawah yang elok nan hijau. Masih terekam jelas dikepalaku, bagaimana langit yang terbentang luas itu menyapaku dengan keindahannya. Sungguh, pemandangan yang tak akan pernah aku dapatkan ketika aku di kota. Tidak ada polusi udara, apalagi kebisingan transportasi. Yang tak kalah penting adalah tidak ada kemacetan, yang dapat membuat orang-orang emosi hingga tak terkendali. Disini, hanya ada udara sejuk yang mampu membelaiku dengan lembut. Hanya ada angin sepoi-sepoi yang mampu membawaku hanyut dalam keindahan alam. Hanya ada burung yang menari-nari dan berkicau merdu.
Sang suryapun tak ingin selalu bersembunyi¸ dengan warna emasnya ia menampakkan sinarnya yang begitu indah. Sinar yang mampu menyilaukan mata setiap orang yang memandang. Sinar yang  mampu memberikan kehangatan pada setiap insan. Sinar nyapun tepat mengenai sebuah gubuk tua, disudut kiri. Sebuah gubuk yang menjadi tempat peristirahatan para petani. Digubuk itulah, petani melepaskan rasa lelahnya, menghela nafas sejenak, dan meminum air untuk menghilangkan rasa haus dahaganya.
Pohon besar didepan gubuk itu seolah menjadi saksi bagaimana semangatnya petani, dan bagaimana perjuangannya dalam bekerja. Setiap tetesan keringatnya ibarat hujan rintik yang perlahan jatuh ketubuhnya. Namun karena kecintaannya yang begitu besar terhadap sawah ini, ia kesampingkan segala sakit dan derita. Tanah yang selalu ia pijakipun menjadi saksi bagaimana para petani merawat dan menjaga tanah ini dengan sepenuh hati.
 Sejatinya dibalik keindahan dan kedamaiann yang ada di sawah tak terlepas dari sosok petani yang menjadi pahlawan. Sawah, tidak akan seindah ini jika tidak dirawat dengan bijak oleh para petaninya. Teruslah begini sawahku, teruslah menjadi tempat yang tak terjamah oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Teruslah menjadi tempat yang memberikanku rasa nyaman dan kedamaian. Teruslah menjadi aset bangsa, karena keindahanmu tak kan pernah ternilai harganya.











Ditulis oleh Ema Yanti
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fisip (UNTAN)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Listening Text

perkuliahan dibulan puasa

Tradisi Fenomenologi