Tradisi Retorika
Tradisi
Retorika
Profesor
Robert T. Craig, mengidentifikasi tujuh tradisi teori komunikasi. Beberapa
pendekatan yang bersifat aktual, yang biasa digunakan oleh para peneliti untuk
mempelajari pelatihan dan masalah komunikasi. Salah satu diantaranya : Tradisi
Retorika. Apa yang dimaksud dengan Teori Retorika ??
Tradisi
Retorika adalah Ilmu mengolah kata dengan tujuan mempersuasif, seni membangun
argumentasi dan seni berbicara yang berorientasi pada pendekatan logis dan
emosional dimana komunikan menggunakan seni dan metode dalam mempengaruhi
komunikator. Pada awalnya, tradisi retorika berhubungan dengan persuasif atau
penyusunan argumen dan pembuatan naskah pidato. Kemudian berkembang mencangkup
segala cara manusia dalam menggunakan simbol untuk mempengaruhi lingkungan di
sekitarnya dan untuk membangun dunia tempat mereka tinggal.
Menurut
Aristoteles, retorika adalah seni membujuk atau the art of persuation (M. Djen Amar, 1986, hlm.
11). Sunarjo (1983) mendefinisikan
retorika sebagai suatu komunikasi di mana komunikator berhadapan langsung
dengan massa atau berhadapan dengan komunikan (audience) dalam bentuk jamak.
Aristoteles berpendapat bahwa retorika itu sendiri sebenarnya bersifat netral.
Maksudnya adalah orator itu sendiri bisa memiliki tujuan yang mulia atau justru
hanya menyebarkan omongan yang tidak sesuai atau bahkan dusta belaka.
Retorika
merupakan salah satu karya terbesar Aristoteles, banyak dilihat sebagai studi
tentang psikologi khalayak yang sangat bagus. Aristoteles dinilai mampu membawa
retorika menjadi sebuah ilmu, dengan cara secara sistematis menyelidiki efek
dari pembicara, orasi, serta audiensnya. Orator sendiri dilihat oleh
Aristoteles sebagai orang yang menggunakan pengetahuannya sebagai seni. Jadi,
orasi atau retorika adalah seni berorasi.
Retorika
berkembang meliputi proses “adjusting ideas to people and people to ideas”
dalam segala jenis pesan. Fokus dari retorika telah diperluas bahkan lebih
mencakup segala cara manusia dalam menggunakan simbol untuk memengaruhi
lingkungan di sekitarnya dan untuk membangun dunia tempat mereka tinggal.
Ada
enam keistimewaan karakteristik yang berpengaruh pada tradisi komunikasi
retorika, yaitu :
1) sebuah
keyakinan yang membedakan manusia dengan hewan dalam kemampuan berbicara.
2) sebuah
kepercayaan diri dalam berbicara didepan umum dalam sebuah forum demokrasi.
3) sebuah
keadaan dimana seorang pembicara mencoba mempengaruhi audiens melalui pidato
persuasif yang jelas.
4) pelatihan
kecakapan berpidato adalah landasan dasar pendidikan kepemimpinan.
5) sebuah
tekanan pada kekuasaan dan keindahan bahasa untuk merubah emosi orang dan menggerakkannya
dalam aksi.
6) pidato
persuasi adalah bidang wewenang dari laki-laki.
Pusat
tradisi retorika yaitu:
1) Penemuan,
Penemuan didefinisikan sebagai konstruksi atau penyusunan
dari suatu argument yang relevan dengan tujuan dari suatu pidato. Dalam hal ini
perlu adanya integrasi cara berfikir dengan argumen dalam pidato. Oleh karena
itu, dengan menggunakan logika dan bukti dalam pidato dapat membuat sebuah
pidato menjadi lebih kuat dan persuasive. Hal yan membantu penemuan adalah
topic. Topik (topic) adalah bantuan terhadap yang merujuk pada argument yang
digunakan oleh pembicara. Para pembicara juga bergantung pada civic space atau
metafora yang menyatakan bahwa pembicara memiliki “lokasi-lokasi” dimana
terdapat kesempatan untuk membujuk orang lain.
2) Penyusunan,
Pengaturan symbol-simbol atau menyusun informasi dalam hubungannya diantara
orang-orang, symbol-simbol, dan konteks yang terkait.
3) Gaya,
berhubungan dengan semua anggapan yang terkait dalam penyajian dari semua
symbol tersebut. Gaya merupakan kanon retorika yang mencakup penggunaan bahasa
untuk menyampaikan ide-ide didalam sebuah pidato. Dalam penggunaan bahasa harus
menghindari glos (kata-kata yang sudah kuno dalam pidato), akan tetapi lebih
dianjurkan menggunakan metafora (majas yang membantu untuk membuat hal yang
tidak jelas menjadi lebih mudah dipahami). Penggunaan gaya memastikan bahwa
suatu pidato dapat diingat dan bahwa ide-ide dari pembicara diperjelas.
4) Penyampain,
merupakan perwujudan dari symbol-simbol dalam bentuk fisik, mencangkup pilihan
non-verbal untuk berbicara, menulis, dan memediasikan pesan. adalah kanon
retorika yang merujuk pada presentasi nonverbal dari ide-ide pembicara.
Penyampaian biasanya mencakup beberapa perilaku seperti kontak mata, tanda
vocal, ejaan, kejelasan pengucapan, dialek, gerak tubuh, dan penampilan fisik.
Penyampaian yang efektif mendukung kata-kata pembicara dan membantu mengurangi
ketegangan dalam sebuah forum.
5) Ingatan
(memory), adalah kanon retorika yang merujuk pada usaha-usaha pembicara untuk
menyimpan informasi untuk sebuah pidato. Dalam hal ini komunikator tidak lagi
mengacu pada penghafalan pidato tetapi juga mengingat budaya sebagaimana dengan
proses persepsi yang berpengaruh pada bagaimana kita menyimpan dan mengolah
informasi. Dengan ingatan, seseorang pembicara dapat mengetahui apa saja yang
akan dikatakan dan kapan mengatakannya, meredakan ketegangan pembicara dan
memungkinkan pembicara untuk merespon komunikan. (Ema_Yanti)
Referensi
:
- Dari buku Griffin (2006) dan Littlejohn & Foss (2008) Oleh : Prof. Sasa Djuarsa Sendjaja, Ph.D Departemen Ilmu Komunikasi FISIP-UI
- Prahastiwi Utari : Perspektif Tujuh Tradisi dalam Teori Komunikasi (Jurnal Komunikasi Massa Vol 4 No 2 Juli 2011 )
Komentar
Posting Komentar