Tradisi Sosiopsikologis
Tradisi
Sosiopsikologis
Profesor
Robert T. Craig, mengidentifikasi tujuh tradisi teori komunikasi. Beberapa
pendekatan yang bersifat aktual, yang biasa digunakan oleh para peneliti untuk
mempelajari pelatihan dan masalah komunikasi. Salah satu diantaranya : Tradisi Sosiopsikologis.
Apa yang dimaksud dengan Tradisi Sosiopsikologis ??
Tradisi
Sosiopsikologis merupakan contoh dari perspektif ilmiah atau objektif. Tradisi
ini memandang individu sebagai makhluk sosial, dengan fokus pengamatan pada
perilaku sosial individu termasuk proses kognitif yang menjadi penyebabnya, variabel2
psikologis. Metodologi penelitiannya menggunakan pendekatan positivistik
(ilmiah empiris-kuantitatif). Para ilmuwan dari kelompok tradisi ini
berpandangan bahwa kebenaran komunikasi dapat ditemukan melalui pengamatan yang
sistematik dan obyektif, dengan tujuan pokok mencari hubungan sebab-akibat.
yang
dapat memprediksi kapan sebuah perilaku komunikasi akan berhasil dan kapan akan
gagal. Adapun indikator keberhasilan dan kegagalan komunikasi terletak pada ada
tidaknya perubahan yang terjadi pada pelaku komunikasi
Tradisi
ini melihat hubungan sebab dan akibat dalam memprediksi berhasil tidaknya
perilaku komunikasi. Carl Hovland dari Universitas Yale meletakkan dasar-dasar
dari hal data empiris yang mengenai hubungan antara rangsangan komunikasi,
kecenderungan audiens dan perubahan pemikiran dan untuk menyediakan sebuah
kerangka awal untuk mendasari teori.
Teori-teori
yang berada di bawah tradisi sosiopsikologi memberikan perhatian antara lain
pada perilaku individu, pengaruh, kepribadian dan sifat individu atau bagaimana
individu melakukan persepsi. Sosiopsikologi digunakan dalam topik-topik tentang
diri individu, pesan, percakapan, hubungan interpersonal, kelompok, organisasi,
media, budaya dan masyarakat.
Tujuan
dari Tradisi Sosiopsikologis adalah untuk memahami bagaiman dan dan mengapa
setiap individu manusia berperilaku
seperti perilaku yang mereka perbuat.
Menurut
The Yale Attitude Studies (Griffin, 2003:22) dalam formula who says what to
whom with what effect, ada tiga variabel yang memiliki sifat persuasif, yakni:
1.
Who, sumber pesan (menyangkut keahlian dan kredibilitas).
2.
What, isi pesan (topik dan argumen).
3.
Whom, karakter penerima pesan (kepribadian, kognisi)
Efek
utama yang diukur adalah perubahan pendapat yang dinyatakan melalui skala sikap
yang diberikan sebelum dan setelah pesan disampaikan oleh komunikator kepada
komunikan. Jadi perhatian penting dalam tradisi ini antara lain perihal
pernyataan, pendapat (opini), sikap, persepsi, kognisi, interaksi dan efek
(pengaruh).
Teori-teori
yang berangkat dari psikologi social juga dapat menjelaskan tentang
proses-proses yang berlangsung dalam diri manusia dalam proses komunikasi yakni
ketika proses membuat pesan dan proses memahami pesan. Manusia dalam proses
menghasilkan pesan melibatkan proses yang berlangsung secara internal dalam
diri manusia seperti proses berfikir, pembuatan keputusan, sampai dengan proses
menggunakan simbol. Demikian pula dalam proses memahami pesan yang diterima,
manusia juga menggunakan proses psikologis seperti berpikir, memahami,
menggunakan ingatan jangka pendek dan panjang hingga membuat suatu pemaknaan.
Tradisi
dalam sosio-psikologis terbagi dalam3 (tiga) cabang atau bidang kajian yakni : perilaku,
kognitif, dan biologis.
1) Perilaku.
Bidang
kajian ini memfokuskan kajiannya pada bagaimana perilaku manusia pada situasi-situasi
komunikasi tertentu. Bagaimana orang sebenarnya berperilaku di situasi
komunikasi, hubungan apa yang kita katakan dan apa yang kita lakukan. Dalam
sudut pandang perilaku, teori-teori berkonsentrasi pada bagaimana manusia
berperilaku dalam situasi-situasi komunikasi. Teori-teori tersebut biasanya
melihat hubungan antara perilaku komunikasi, apa yang dikatakan dan dilakukan
dalam kaitannya dengan beberapa variabel, seperti sifat pribadi, perbedaan
situasi, dan pembelajaran. Ketika perilaku tertentu diberi penghargaan,
perilaku tersebut akan diulang. Hal ini dapat disebut sebagai pembelajaran
(learning). Sedangkan ketika respon diberi hukuman, perilaku tersebut akan
berhenti.
2) Kognitif.
Bidang
kajian kedua memfokuskan perhatiannya pada bagaimana individu memperoleh, menyimpan
dan memproses informasi dan berpusat pada bentuk pemikiran. Cabang ini
berkonsentrasi pada bagaimana individu memperoleh, menyalurkan dan memproses
informasi yang digunakan untuk menuntun perilaku yang ditunjukkan. Dengan kata
lain, apa yang dilakukan dalam situasi komunikasi bergantung tidak hanya pada
bentuk stimulus-respon, melainkan pada operasi mental yang digunakan untuk
mengolah informasi.
3) Biologis.
Sementara
bidang kajian ketiga memfokuskan perhatiannya pada faktor biologis (kajian
genetik seperti sistem dan fungsi otak, sistem saraf, dll.) yang dimiliki
seseorang mempengaruhi perilakunya. Apapun pemikiran dan perilaku kita
terhubung secara biologis dan berkembang tidak hanya berasal dari proses
belajar atau dari faktor situasi melainkan juga dari pengaruh bawaan
neurobiologis sejak lahir.
Pemikiran
sosiopsikologi sangat bermanfaat dalam membantu kita memahami berbagai situasi
sosial di mana kepribadian menjadi penting di dalamnya, atau bagaimana
penilaian seseorang (judgements) menjadi bias karena adanya faktor kepercayaan
(belief) dan perasaan (feeling) serta bagaimana seseorang memiliki pengaruh
terhadap orang lain. (Ema_Yanti)
Referensi :
1. Dari
buku Griffin (2006) dan Littlejohn & Foss (2008) Oleh : Prof. Sasa Djuarsa
Sendjaja, Ph.D Departemen Ilmu Komunikasi FISIP-UI
2. Prahastiwi
Utari : Perspektif Tujuh Tradisi dalam Teori Komunikasi (Jurnal
Komunikasi Massa Vol 4 No 2 Juli 2011 )
Komentar
Posting Komentar