Artikel Cerdas Memilih Tontonan


Cerdas Memilih Tontonan

Film adalah sumber pikiran yang membatu – Jean Cocteau. Di era digital ini, masyarakat termasuk kaum millenial, orang tua, hingga anak-anak sangat senang menonton film. Menonton, seolah-olah sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Bahkan beberapa orang ada yang menganggap bahwa menonton adalah sebuah kebutuhan, hingga muncullah istilah “saya tidak bisa hidup tanpa menonton”.  
 Pada kenyataannya, masyarakat sekarang sudah dipermudah dengan teknologi yang semakin canggih. Mereka yang suka menonton, dapat dengan mudah mengakses film. Iya, hanya dengan menggunakan smartphone nya saja mereka sudah bisa menonton film. Lantas apakah kemudahan dalam mengakses film ini adalah sebuah kemajuan ? atau malah kemunduran?
Kemudahan mengakses film memang bisa dikatakan sebagai kemajuan. Karena dengan kemudahan ini, masyarakat tidak perlu repot-repot ke bioskop. Masyarakat tidak perlu mengeluarkan banyak uang, agar dapat menonton film yang diinginkannya. Namun, selain sebagai kemajuan hal ini juga dapat dikatakan sebagai sebuah kemunduran. Hal ini dikarenakan, tidak adanya rasa cukup atau tidak adanya rasa puas dari para penonton untuk lagi, lagi dan lagi menonton film yang mereka inginkan. Sehingga lupa makan, lupa kerjaan, dan yang diingat hanyalah nonton.
Hal ini tentu menimbulkan tanya “apakah film-film yang ditonton sesuai dengan kategori usia dari para penonton?” katakanlah kita meragukan ketepatan dan kualitas dari film yang mereka tonton. Ketakutan akan ketidaksesuaian terhadap usiapun menjadi hal yang penting untuk dibahas. Setiap  film memiliki kategori umurnya masing-masing. Dan isi dari film itupun sudah disesuaikan dengan umur dari masng-masing penonton. Mulai dari semua umur,  anak-anak, remaja, hingga dewasa.
Undang-undang No 33 tahun 2009 dan peraturan pemerintah No.18 tahun 2014 Lembaga Sensor Film (pada buku pedoman literasi film) menetapkan kategori atau klasifikasi Usia untuk para penonton. Pembagian tersebut terbagi menjadi, SU (Semua Umur), 13+ yaitu penonton dengan usia tiga belas tahun atau lebih. 17+  yaitu penonton dengan usia tujuh belas tahun atau lebih, dan yang terakhir adalah 21+ yaitu penonton dengan usia dua puluh satu tahun atau lebih.
Setiap film dipecah menjadi beberapa kategori, maka cara memilih dan memilah tontonan diera film digital yang semakin canggihpun dilakukan dengan membagi kategori usia tersebut. Dimulai dari kategori SU, salah satu cara untuk memilih tontonan yang baik dan bermanfaat untuk kategori semua umur yaitu, dengan mengawali aktifitas membimbing anak untuk mengenal keanekaragaman. Memberikan pengetahuan mengenai mana yang fakta dan fantasi.
Tidak hanya itu, kemudian membimbing anak mengenal persamaan dan perbedaan dengan tujuan meningkatkan keterampilan membedakan yang baik dan buruk. Seorang penonton harus bisa menghindari film/ iklan yang mengandung agresivitas, anti sosial, dan perilaku negatif . Menghindarkan film yang berbau mistis dan tahayyul, yang bertentangan dengan norma agama, serta tidak mengandung perjudian, minuman keras dan sebaginya.
Untuk kategori 13+, sebuah film harusnya mengandung nilai pendidikan, budi pekerti, apresiasi, estetika, kreatifitas, dan pertumbuhan rasa ingin tahu yang positif. Kemudian, penonton  memilih tema, judul dan adegan visual serta dialog yang cocok untuk anak-anak yang beranjak ke remaja. Kategori ini merupakan sebuah film yang tidak menampilkan adegan yang mudah ditiru seperti adegan berbahaya dan adegan pergaulan bebas yang berlainan jenis atau sesama jenis.
            Kemudian, sebuah film yang masuk pada kategori usia 17+ adalah kategori dimana penonton harus memilih tema, judul, adegan visual serta dialog yang cocok dengan usianya yang berusia 17 tahun ke atas. Untuk kategori ini, seksualitas disajikan secara proporsional dan edukatif. Tidak menampilkan adegan sadisme dan dari segi kekerasan disajikan secara proporsional. Sedangkan untuk kategori terakhir yaitu 21+, penonton memilih dan memilah tontonan dengan landasan bahwa dialog yang cocok untuk orang dewasa, seperti permasalahan keluarga. Dan adegan visual dan dialog tentang seks serta kekerasan dan sadisme yang tidak berlebihan.
Berdasarkan hal ini kita tahu bahwa film dibagi menjadi beberapa kategori yang berdasarkan usia dari para penonton itu sendiri. Maka, menjadi penonton yang cerdas itu penting! Kita dikatakan tidak cerdas dalam memilih tontonan, apabila kita hanya memilih suatu film atau tontonan hanya berdasarkan keinginan “saya suka filmnya, atau saya suka aktor nya”. Hal itu sangat keliru, jadi pilihlah tontonan yang memang kita tahu dan mengerti bahwa film tersebut memang cocok untuk kita. Mulai dari tema, judul, adegan, dialog, dan visualnya, hingga isinya memang sesuai dengan umur dan porsi kita. Hal ini mewakili secara tidak langsung mengenai penjabaran dari masing-masing klasifikasi usia bagi penonton.
            Sebuah pesan atau makna yang tersimpan pada masing-masing film itu berbeda-beda, maka kita harus memiliki feeling mengenai film yang akan kita tonton. Apa yang kita tonton haruslah sebuah tontonan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga harus mendidik, memberikan pengetahuan yang baru dan bermanfaat bagi diri kita.
            Untuk memastikan bahwa anak-anak sudah menonton film yang benar dan sesuai dengan usianya, maka orang tuanya atau orang dewasa yang ada disekitarnya harus memberikan pengetahuan dan mendampingi si anak pada saat menonton. Kemudian memilih film yang memang sesuai dan cocok untuk usianya. Pada saat menonton orang tua juga bisa sambil memberikan pengetahuan kepada anak, mengenai hal-hal yang baik dan hal-hal yang harus dihindari dari film tersebut. Kemudian mengingatkan yang patut ditiru, dan menanamkan nilai-nilai positif.
            Sedangkan untuk yang remaja dan dewasa, menurut saya harus lebih peka terhadap sistuasi dan lingkungan sekitar. Bagaimana kita harus memilih dan memilah sebuah tontonan. Kita tidak bisa menonton semua tayangan yang disajikan oleh produksi film. Tetapi kita bisa menyeleksinya, mana yang memang benar-benar pantas untuk kita tonton. Karena pada kenyataannya jumlah viewers sangat berpengaruh terhadap kualitas sebuah film kedepannya.
            Ketika orang-orang atau penonton lebih menyukai film-film yang tidak memiliki kualitas dan film-film yang sebenarnya bukan untuk usianya, maka hal itu tidak menutup kemungkinan akan berdampak pada psikisnya bahkan perilakunya. Hal ini membuat film menjadi tidak tepat sasaran. Dan dapat memberikan dampak yang buruk bagi yang tidak bisa menyaring pesan atau makna yang ada pada film tersebut.
Jadi, yang terpenting adalah kita harus benar-benar memastikan bahwa apa yang akan kita tonton adalah film yang memang sesuai dengan umur kita dan bagus kualitasnya. Setiap adegan harus diperhatikan. Jangan sampai ada intoleransi terhadap agama lain, jangan sampai ada diskriminasi  terhadap SARA atau gender. Jangan sampai pada film tersebut ada kekerasan seperti sadisme dan ancaman yang memicu orang untuk ikut melakukannya juga. Pastikan bahwa, film tersebut tidak mengandung unsur pornografi, narkotika atau zat adiktif. Hal ini tentu untuk menjaga nilai-nilai kepercayaan, budaya, dan sosial dari masyarakat Indonesia. Maka dari itu, ayo penonton Indonesia, selektif dan cerdaslah dalam memilih tontonan. Agar apa yang kita tonton juga bisa menjadi tuntunan bagi kita. (Ema Yanti)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Listening Text

perkuliahan dibulan puasa

Tradisi Fenomenologi