Artikel dan Tajuk Rencana
Ujian
Akhir Semester
Artikel
dan Tajuk Rencana
Disusun
Oleh
Nama :
Ema Yanti
NIM :
E1101161020
PROGRAM
STUDI ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS
ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS
TANJUNGPURA
2018/2019
Tugas
Ujian Akhir Semester
1. - Jelaskan perbedaan Artikel dan Tajuk Rencana!
Artikel adalah sebuah tulisan yang
berisi fakta, opini, dan ide, yang dibuat oleh seorang penulis dengan tujuan
untuk memberikan informasi, membujuk dan atau hanya sekedar untuk menghibur orang
lain melalui tulisan. Sedangkan
tajuk rencana adalah sebuah tulisan yang berisi opini atau pandangan redaksi mengenai
sebuah peristiwa atau fenomena berita yang sedang diterbitkan oleh lembaga
medianya. Tajuk rencana dapat diangkat dari straight news maupun future berita.
Tajuk rencana secara tidak
langsung merupakan sebuah cerminan, wajah dan kualitas dari sebuah lembaga media.
Jika tajuk rencana pada media tersebut bagus maka, bagus pula medianya. Dari
segi penulisan artikel dan tajuk rencana juga berbeda. Penulisan artikel lebih
umum dan bukan dari pandangan redaksi. Sedangkan tajuk rencana merupakan opini
pandangan redaksi. Dari segi bahasa,
artikel terkesan santai seperti bercerita, sedangkan tajuk rencana juga santai,
namun pada bagian-bagian tertentu tetap tegas dan padat. Selain itu, pada tajuk rencana pemilihan
katanya lebih menarik, dan lebih beragam, juga ada kesan humoris didalamnya sehingga mendorong masyarakat untuk membacanya.
2. - Apakah tajuk rencana dapat diangkat dari
artikel orang lain ?
Tajuk rencana
tidak dapat diangkat dari artikel orang lain. Hal itu dikarenakan artikel dan
tajuk rencana merupakan dua jenis tulisan yang berbeda, dengan ciri khas yang
berbeda pula. Sebuah tajuk rencana lazimnya diangkat dari straight news dan
feature berita, yang memuat fakta, data, dan aktual.
3.
- Apakah tajuk rencana dapat diangkat dari
berita feature ?
Tajuk rencana
dapat diangkat dari berita feature. Karena, berita feature berisi fakta dan
data, bukan merupakan opini atau gagasan dari penulis. Sehingga dapat dijadikan
sebagai tajuk rencana yang juga memerlukan banyak data dan fakta.
Tajuk Rencana
Sumber berita : Teraju.id
Judul : Gerakan Indonesia Membaca Pontianak Dilaunching
Rendahnya Peringkat Literasi
“Aku rela dipenjara asalkan bersama
buku, karena dengan buku aku bebas” (Mohammad Hatta).
Buku adalah adalah gudang ilmu,
jendela untuk melihat dunia, dan membaca adalah kuncinya. Dengan membaca buku
akan membuka wawasan dan menambah pengetahuan kita tentang segalanya. Namun, di
era digital saat ini, budaya membaca seolah telah sirna. Kecenderungan terhadap
gadget telah membuat orang lupa
tentang kebutuhan membaca yang sebenarnya sangat krusial. Hal ini terbukti dari
beberapa penelitian tentang minat membaca masyarakat indonesia yang tak kunjung
meningkat.
Programme for International Student Assessment (PISA) pada 2012 menunjukkan,
Indonesia menduduki peringkat 60 dengan skor 396 dari total 65 peserta negara
untuk kategori membaca. Hasil ukur membaca ini mencakup memahami, menggunakan
dan merefleksikan dalam bentuk tulisan. Skor rata-rata international yang
ditetapkan oleh PISA sendiri adalah sebesar 500. Di negara Asia Tenggara,
kemampuan terbaik literasi membaca pada penelitian PISA tahun 2012 dipegang
oleh Singapura yang menduduki peringkat ke-3 dengan perolehan skor 542.
Adapun negara tetangga Malaysia ada di atas Indonesia dengan peringkat 59
dengan skor 398.
Capaian
itu turun jika, dibandingkan dengan peringkat Indonesia pada 2009 di urutan 57
dengan skor 402 dari total 65 negara. Pada tahun tersebut, skornya memang naik
tetapi peringkatnya turun. Sedangkan pada tahun 2006, Indonesia menduduki
peringkat membaca 48 dengan skor 393 dari 56 negara.
Sementara Central
Connecticut State University asal Amerika Serikat merilis data bertajuk World’s
Most Literate Nations Ranked yang dilepas pada 9 Maret 2016 lalu.
Penelitian itu menempatkan Indonesia di peringkat ke-60 dari total 61 negara.
Posisi lima besar dipegang oleh negara-negara Skandinavia seperti: Finlandia,
Norwegia, Islandia, Denmark, Swedia. Untuk urutan keenam dipegang oleh Swiss.
Posisi paling ekor tepat di bawah Indonesia ditempati Botswana, sebuah negara
Afrika di bagian selatan yang terkurung oleh daratan bekas jajahan Britania
Raya.
Hasil
penelitian ini membuktikan bahwa minat membaca masyarakat Indonesia, masih
sangat rendah dibandingkan dengan negara-negara lain. Hal ini menjadi masalah
dan tantangan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Jika literasi diibaratkan
jantung dalam sebuah bangsa, lantas bagaimana sebuah negara dapat berdiri kokoh
dengan tegapnya tanpa adanya literasi ?
Agaknya penelitian
ini menjadi cambuk bagi pemerintah kota Pontianak khususnya, untuk mencari
jalan agar dapat menumbuhkan minat membaca masyarakat Pontianak. Salah satu
aksi nyatanya adalah dengan membuat sebuah gerakan Indonesia Membaca pontianak yang
baru saja di launching. Gerakan Indonesia
Membaca adalah salah satu gerakan untuk kembali memasifkan budaya membaca dan
menulis bagi setiap kalangan terutama kalangan muda, agar tidak terlena dengan
adanya gadget saat ini.
Gerakan Indonesia Membaca di tandai dengan diterbangkannya buket
balon berwarna biru dan merah, yang diikat dengan pita merah dengan membawa pesan
“Gerakan Indonesia Menulis”. Selain itu Walikota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, bersama penyusun rencana aksi menandatangani kain rentang
putih, sebagai bentuk kesepakatan bersama menggerakan Indonesia Membaca. Gerakan
yang dibuat oleh pemerintah ini,
tentunya juga perlu di dukung oleh orang tua, masyarakat,
lembaga-lembaga pendidikan dan peran dari penulis untuk menumbuhkan minat literasi
(baca : membaca dan menulis) masyarakat Pontianak.
Adanya
gerakan ini kita berharap agar masyarakat Pontianak khususnya, sadar akan
pentingnya membaca, sehingga tumbuh keinginan untuk terus membaca dan menulis. Jika
gerakan ini sukses bukan tidak mungkin, Pontianak kelak menjadi trendsetter bagi kota-kota lain untuk membuat
sebuah gerakan dalam upaya peningkatan minat baca dan tulis.
Pada kenyataannya
membaca bukanlah pilihan tetapi kebutuhan. Kita butuh membaca untuk mengenal
dunia, kita butuh membaca untuk tahu baik buruknya kehidupan, kita butuh
membaca untuk menambah wawasan serta pengetahuan kita. Maka, jangan biarkan
rendahnya peringkat literasi membuat kita enggan untuk membaca. Sebaliknya, jadikanlah
itu sebuah tamparan halus untuk kita, agar kita sadar betapa pentingnya membaca
dan menulis karena itu adalah awal dari segala kemajuan.
§ Kenapa
memilih berita itu ?
Karena
menurut saya berita ini menarik jika diangkat menjadi tajuk rencana. Permasalahannya
juga sangat sesuai dengan keadaan saat ini. Minat membaca dan menulis masyarakat
Indonesia memang masih sangat rendah.
§ Kenapa
tajuk rencananya bisa dijadikan seperti itu ?
Karena
saya ingin ketika orang membaca tajuk rencana saya orang-orang menjadi tahu
bahwa dalam dunia literasi, Indonesia masih sangat jauh diurutan bawah jika
dibandingkan dengan negara-negara lain. Kelalaian kita yang tidak dapat menahan
derasnya pengaruh gadget, membuat
kita lupa dengan kebudayaan membaca. Saya juga berharap dengan tajuk rencana
yang saya tulis ini, dapat menumbuhkan kesadaran dan minat membaca dan menulis masyarakat Indonesia, dan
masyarakat Pontianak, khususnya. Memang bukan perkara mudah untuk dapat
menumbuhkan rasa cinta terhadap membaca. Tetapi bukan berarti pula kita tidak
bisa melakukannya. Semoga saja tulisan ini dapat bermanfaat bagi saya dan bagi
kalian yang membacanya.
Terima Kasih 😊
Komentar
Posting Komentar